BUANG ITU TEORI MENGATUR NAFAS



Teori Nafas


Segala teori yang membuat kita mengatur-mengatur nafas, buang saja. Pokoknya, apa yang Tuhan kerjakan dalam diri ini, kita hanya memperhatikan sampai kita merasa tentram. Sampai kita mengerti betul bahwa kita dikasihi oleh Tuhan. 

Nah, kalau ini saja gagal, ke sananya pasti nggak akan berhasil. Kalau dalam nafas saja kita mulai sok-sok ngatur, bagaimana hidup yang lain? Nafas yang mestinya betul-betul kita rasakan, kita atur-atur. Itu sama dengan kita menguatkan ego. Nah, untuk hal-hal yang lain pasti yang dominan adalah egonya.

Kenapa meditasi itu dikatakan sebagai momen untuk meluruhkan ego? Karena sebetulnya kita punya ego, tetapi ini tidak kita pakai. Kita hanya menerima ketika Tuhan bekerja dalam diri kita. Kita nggak ngatur-ngatur, kita hanya menerima, berterima kasih. 

Nah, teman-teman semua, ini hal yang paling sederhana dan bagi sebagian orang justru itulah yang paling sulit. Nah, karena ini sulit, maka perlu ada beberapa pengalaman tentang orang yang berhasil di proses ini. Siapa yang punya pengalaman, ada nggak, yang bergeser dari sesuatu yang sulit, sekarang sudah mulai gampang?

Kadang-kadang kita itu disulitkan oleh pikiran kita sendiri dengan membuat bahasa-bahasa yang tidak realistik. Bahasa "menemukan kasih" yang diungkapkan itu mengindikasikan ada sesuatu yang harus ditemukan, ada objek yang harus kita bisa saksikan betul, dan jangan-jangan dia membayangkan bisa dilihatkan.

Menikmati

Sekarang, pembahasannya nggak usah tentang bernafas dulu. Ketika Anda ngopi saja, memangnya bersama kopi itu tidak ada kasih? Terus kenapa susah untuk ditemukan? Memangnya apa yang Anda cari? Sekarang, pertanyaannya dibalik, Kalau ngopi, memang nggak merasakan kasih? Bersama kopi itu ada nikmat. 

Kalau nikmat berarti kasih, bukan? Di balik nikmat, itulah kasih. Ketika Anda 'tang tung tang tung' (main alat tradisional), ada nikmat dari suara yang indah, yang mendamaikan kita, apakah itu bukan kasih? Mau dicari apalagi? Clear, ya.

Tapi, tidak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mengertilah, dalam segala hal yang kita nikmati itu adalah wujud kasih. Ada kasih Tuhan di sana. Sekarang kita bersandar, nikmat. Itu wujud kasih, bukan? Kaki kita selonjoran, bentuk kasih, bukan? Bentuk kasih. Kalau tidak bisa, kita menderita. 

Lalu, yang dicari apa? Ini harus diperbaiki dulu. Jadi, nggak usah nyari-nyari kasihNya karena kasihNya sudah jelas. Di dalam nafas yang bisa dinikmati itu ada kasih. Ya sudah. Makanya, kita berterima kasih masih bisa bernafas. Itu sederhananya. Kalau ada yang nyari kasih, ada nggak ya yang nyari nafasnya ada di mana?
 
Sederhana, antara betul-betul menikmati nafas dengan mengatur-atur nafas, tapi ini dua jurusan yang berbeda. Kalau Anda menikmati nafas, anda ada di jalan kepasrahan yang ujungnya adalah jalan kebahagiaan, jalan keselamatan. Kalau Anda mengatur-atur nafas, ini jurusan menuju kepada penguatan dan peninggian ego, termasuk nanti kalau ada yang mengatur-atur nafas pasti punya tujuan, misalnya biar sakti. 

Nah, itu bukan spiritualitas. Itu yang membuat Anda terjebak, nanti egonya semakin kuat, nanti ada kamuflase yang seolah-olah dapat kekuatan spiritual sehingga semakin nyasar. Ketika ego makin kuat, Anda akan semakin terjerat di dalam penderitaan. Belum lagi nanti ditambahi ego semakin menguat, kita mengundang jeratan Dark Force (DF). Begitu prosesnya.

Maka, jurusan perjalanan Anda harus diubah. Ini seperti terminal bus, antara menikmati nafas dengan mengatur nafas itu jurusannya berbeda. Kalau menikmati nafas hasilnya adalah kota kebahagiaan, kalau mengatur nafas hasilnya kota penderitaan. Kalau ini tidak diperbaiki, maka hal-hal mendasar juga tidak akan beres. Jadi, saya mau ingatkan teman-teman, "Yuk, balik lagi kepada ini."
0 Response to "BUANG ITU TEORI MENGATUR NAFAS"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan