PENEBUSAN DOSA



Yeshua

Dosa menjadi perkara yang absurd jika kita bayangkan hubungan Tuhan dan manusia seperti dalang dan wayang. Niscaya muncul pertanyaan, "Jika manusia digerakkan oleh Tuhan, mengapa manusia mesti disalahkan dan menanggung konsekuensi dari kesalahan itu?" Nah...justru itu, untuk memahami realitas dosa, persepsi tentang dalang dan wayang harus dibongkar dulu. Analogi ini sama sekali tidak pas.
Kita lihat dulu soal dalang. 

Secara faktual dalang itu ada bossnya, yaitu penanggap acara. Dalang menerima energi hidup alias honor darinya. Dalang punya keterbatasan, seperti saat ini, gak bisa mentas karena dilarang Satgas Copit. Pasukan wayang entah ksatria dan raksasa sama sekali tak berdaya. Dalang juga saat bermain, menggelarkan lakon dengan pakem tertentu, dengan improvisasi minimalis. Jadi dalang ini penuh keterbatasan, tidak bisa disamakan dengan Tuhan yang tanpa batas. Apalagi dalang hanya berlaku untuk wayang kulit dan wayang golek, tidak untuk wayang orang.

Sementara itu, wayang, pada dasarnya adalah benda mati. Ia tak punya kehendak sama sekali, hanya bergerak jika digerakkan. Sekali jadi Sengkuni ya selamanya jadi Sengkuni. Jelas beda dengan manusia, yang memang dapat limpahan energi dari Sang Sumber Hidup tapi punya kehendak sendiri. Wayang satu kotak itu ada pada manusia semua, tinggal manusia yang pilih mau mainkan lakon yang mana. Manusia tak pernah dipaksa untuk jadi Sengkuni, ia bisa memilih jadi Krisna atau Puntadewa. Semua pilihan itu yang kemudian memberi resiko.

Dalang dan wayang juga secara faktual adalah realitas terpisah. Beda dengan Tuhan dan manusia: Tuhan menjadi esensi sekaligus meliputi manusia. Tuhan dan manusia ada dalam kesatuan, saat yang sama manusia punya kebebasan membentuk nasib sendiri dalam batasan kapasitas yang terbentuk oleh pilihan di masa lalu, dan ada dalam koridor hukum semesta yang absolut.

Jadi, sirnakan ilusi ada sosok Tuhan yang menggerakkan diri kita seenaknya. Yang benar terjadi, Tuhan mengejawantah sebagai Diri Sejati dan menuntunkan jalan keselamatan. Kita yang memilih menerima atau menyangkal tuntunan itu dengan resiko yang nyata. Segenap penyangkalan, pengabaian, adalah dosa. Itulah pangkal derita manusia. Jadi derita itu hasil pilihan manusia sendiri. Jangan pernah salahkan Tuhan atau menuntut Tuhan.

Saat ini, mayoritas manusia berkubang dalam dosa, karena konsisten mengabaikan tuntunan kebenaran dan keselamatan dari Diri Sejati. Manusia kemudian menanggung dosa individu sekaligus dosa kolektif. Maka mayoritas manusia terjerat roda samsara.

Di berbagai era, datang Avatar atau Juru Selamat. Mereka memandu manusia untuk menebus dosa individunya lewat laku keheningan, dan dengan kebajikan diri yang ekstrim, mereka mereset dosa kolektif, sehingga terjadi keselamatan massal. Tanpa itu, lingkaran dosa dan derita manusia tak akan pernah terputus. Butuh terobosan quantum untuk melampaui kebiasaan manusia yang terus menumpuk dosa dan mencipta roda samsara yang tak berujung.

Dosa individu diselesaikan dengan laku keheningan plus kerelaan menerima buah dari dosa itu (dalam bentuk penderitaan) dan belajar darinya. Semakin sirna jejak dosa, semakin naik tingkat kesadaran hingga datanglah kehidupan sorgawi (dalam skala terbaru, itu dicapai di loc 500 yang stabil). Sementara itu, seorang Avatar, jelas adalah pribadi tercerahkan, telah terbebas dari segala bentuk jejak dosa. Jiwanya murni, kasihnya berlimpah. 

Tingkat kesadarannya supertinggi, kebajikannya sangat ekstrim, sehingga tingkat kejernihan karma kolektif satu bangsa maupun umat manusia bisa naik drastis, sehingga terjadi keselamatan, tanpa mengabaikan tegaknya keadilan bagi para durjana.
0 Response to "PENEBUSAN DOSA"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan