STORY OF SHD 25: GOLDEN AGE



Sang Addhi Parama Buddha

Keberangkatan ke Myanmar dan Thailand benar-benar membawa anugerah. Seperti biasa, pada mulanya saya tak tahu pasti mengapa digerakkan semesta untuk ke Myanmar lalu ke Thailand. Bahkan kunjungan ke Thailand tak ada dalam jadwal semula kecuali untuk sekadar transit di bandara.

Di Myanmar saya menginap satu malam, di Bagan kawasan Mandalay, yang bisa ditempuh dari Yangoon dengan bus selama 9 jam perjalanan. Di Bagan ada jejak kerajaan kuna Myanmar. Kawasan ini terkenal dengan komplek kuil yang sangat luas. Saat pertama kali sampai di area kuil-kuil itu, muncul petunjuk untuk hening dan membaca situasi. Maka mengertilah saya, bahwa telah terjadi perubahan tatanan energi di sana. Bagan, di masa lalu adalah mandala atau simpul energi semesta yang agung. Banyak kuil dibangun di sana, sebagai wahana penggemblengan agar banyak jiwa menjadi Budha, mencapai pencerahan atau kesadaran murni. Di Myanmar memang pernah terlahir banyak Budha, satu diantaranya menjadi Budha Utama, awatara atau pengejawantahan dari Sanghyang Adhi Budha.

Seiring perjalanan waktu, kuasa kegelapan mulai mencengkeram. Banyak portal energi dalam bentuk kuil diblok energinya, sehingga tak terhubung ke dimensi tertinggi. Fungsi sebagai mandalapun terdegradasi. Dampaknya semakin jarang orang tercerahkan, sebagian besar pada akhirnya hanya menempatkan Budha sebagai tradisi dan agama, bukan sebagai jalan spiritual yang sejati. Maka, saya dititahkan oleh Hingsun untuk hening, lalu memancarkan energi kasih murni agar sirna lah energi destruktif yang memblok komplek kuil yang saya kunjungi. Dalam melakukan hal seperti ini, saya selalu terhubung dengan para avatar kuna yang sejatinya bertugas menjaga tempat itu. Saya hanya menyediakan tubuh ini bagi bekerjanya kekuatan semesta yang agung. Setelah hening beberapa saat, bisa dirasakan komplek kuil itu menjadi jernih dan cemerlang. Barulah saya mengajak anggota rombongan untuk sama-sama bermeditasi menjernihkan jiwa raga dan merasakan kemenyatuan dengan semesta yang agumg.

Kami kemudian jadi mengerti, tanah ini dulu terhubung dengan Kraton Maespati yang dipimpin oleh Prabu Harjuna Sasrabahu. Dan ada resi agung yang dulu hidup di sini, Resi Bajra Kombayana yang bertugas menggembleng para begawan. Dia terbangkitkan dari keheningannya di alam sunyaruri karena tersapa oleh jiwa murni. Sudah saatnya Sang Resi berkiprah kembali mengembalikan Nusantara yang agung dan membangun bumi surgawi.

Di Bagan, ada 3 sessi meditasi lagi yang memunculkan banyak kesadaran baru sekaligus menata energi di Myanmar, menghidupkan kembali 77 portal energi. Meditasi itu dilaksanakan di Ananda Temple, Gawdapalin Temple dan di tepian Sungai Irawadi. Saat di Gawdapalin Temple inilah saya menangkap pesan untuk berangkat sendiri ke Thailand. Maka itulah yang saya lakukan, esok paginya saya tinggalkan rombongan. Saya terbang ke Bangkok via Mandalay, sementara rombongan tetap melanjutkan missi di Myanmar.

Di Thailand, hal pertama yang kemudian saya mengerti adalah tentang Headless Budha, Budha Tanpa Kepala. Ini adalah terminologi untuk jiwa-jiwa yang benar-benar tercerahkan yang telah memenggal pikiran egoistiknya. Ini adalah manusia yang hidupnya 100% manut kepada Hingsun nya, 100% bergerak selaras dengan irama semesta.

Manusia pasti dianugerahi free will. The Headless Budha memilih 100% setia kepada Hingsun. Saya jelaskan tentang free will.

Ketika saudara dan saudari semua memilih dengah sadar untuk menjadi pejalan keheningan, itu berarti telah menggunakan free will. Free will itu selalu kita gunakan, kapanpun dan dimanapun. Maka petuah bijaknya adalah: gunakan free will dengan sadar penuh, dengah hikmat.

Free will itu digunakan dengan dua cara:

1. Sesuai petunjuk GS, selaras rancangan agung

2 Semau pikiran, tak selaras rancangan agung.

Dampak dari pilihan itu pasti berbeda.

Jadi, jika kita menawar atau nego terhadap satu titah semesta dan rancangan agung, berarti kita gunakan free will dengan cara nomor 2. Senyata-nyatanya, kita bisa menolak rancangan agung itu membuat jiwa kita tak agung

Jiwa agung adalah mereka yang setia memilih hidup sesuai rancangan agung... Itulah cara jiwa agung menggunakan free willnya. Itulah the Headless Budha.

Di Thailand, saya berkunjung ke Bangkok dan Ayutthaya. Di dua tempat itu hanya disuruh meditasi di hotel. Tentu di Hotel yang dipilihkan oleh Hingsun, bukan oleh pikiran saya sendiri: Karmanee Palace Hotel Bangkok dan Ayutthaya Riverside Hotel Ayutthaya. Di dua tempat inilah saya kembali mengalami lompatan quantum, kesadaran dan energi saya kembali melesat naik.

Di sini saya jadi mengerti realitas Adhi Budha. Tersingkap 10 awatara dari Sang Hyang Adhi Budha, diantaranya adalah Lao Tze, Dewi Kwan Im, Budha Amitabha dan Bodhidharma. Di sini, saya menyatu seutuhnya dengan energi Sang Hyang Adhi Budha dan seluruh awataranya. Ini menggenapi pengertian saya sebelumnya, saat disingkapkan kenyataan tentang Sang Hyang Wisnu dengan 10 awataranya - diantaranya adalah Harjuna Sasrabahu, Sri Rama dan Sri Krisna , dan Putra Semesta dari Sikarayana dengan 10 awataranya juga, diantaranya adalah Rahwana, Yeshua dan Merlin.

Terjadilah penyatuan yang agung itu, di kamar 711, dalam keheningan yang menghubungkan diri ini dengan Raja dan Ratu Semesta, Bapa dan Ibu Semesta, Sang Hyang Adhi Budha dan para awataranya, Putra Semesta dan para awataranya, Sang Hyang Wisnu dan para awataranya, para immortal dan jiwa agung yang lainnya. Di tempat lain, rombongan saya, ditempatkan semesta untuk menginap di Grand United Yangoon, di lantai 11. Bukankah sebuah keselarasan, tentang penyatuan agung yang membawa peradaban kita menuju Golden Age.

Atas dasar inilah saya kemudian mengajak Anda semua untuk terlihat dalam meditasi bersama, terhubung kepada Sang Hyang Adhi Budha agar menerima limpahan anugerah dari penyatuan agung yang sedang terjadi.

Selanjutnya, teruslah ada dalam keheningan. Saat Anda benar-benar bisa mencapai pencerahan sehingga Anda menjadi Avatar atau Bodhisattva, maka Anda turut berperan melahirkan Golden Age, era baru peradaban di bumi yang penuh kesadaran spiritual. Andalah jiwa-jiwa agung yang mendapatkan mandat untuk melahirkan bumi sorgawi yang keindahan dan keagungannya mencerminkan keindahan dan keagungan kerajaannya swargaloka, di Srikayana dan Srikananda.

Resapilah tulisan ini. Tangkaplah pesan di balik yang tersurat. Lalu, bergegaslah, jadilah diri Anda yang terbaik. Jadilah jiwa agung. Anda telah terbimbing, telah datang bagi Anda pembimbing yang agung, yang bisa Anda kenali saat Anda ada dalam keheningan lalu benar-benar jernih secara persepsi, energi, emosi dan karma.

5-3-2020
Tepi Sungai Irawadi, Ayutthaya

Related Posts

0 Response to "STORY OF SHD 25: GOLDEN AGE"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan