Sikap terhadap Kebenaran dan Kepalsuan



Sikap terhadap Kebenaran dan Kepalsuan
Gambar oleh OpenClipart-Vectors dari Pixabay
Menyikapi Raja dan Kerajaan Palsu Saat kebenaran siap muncul, kepalsuan pasti disebarluaskan oleh pihak-pihak yang tak suka akan kebenaran. Kebenaran yang saya maksud adalah tentang kembalinya manusia kepada jatidiri, merdekanya jiwa-jiwa manusia, dan terbangunnya tatanan baru di bumi yang mencerminkan keindahan swargaloka.

2020 pasti jadi momen istimewa. Tahun ini memang tahun kebangkitan: kesadaran spiritual bangkit di berbagai belahan bumi dan menjadi pemicu untuk penataan seluruh sendi peradaban. Api kebangkitan spiritual ini memang menyala paling kuat di Indonesia.

Gerakan pencerahan berskala global yang terkait dengan kemunculan kembali jiwa agung dari masa lalu, dimulai di tanah ini. Ya, dari tanah tempat dimana dulu Bung Karno menyerukan tatanan dunia yang lebih adil, muncul kembali api yang menghidupkan spirit humanisme universal.

Dunia tengah kekurangan kasih murni. Maka dari sini, dari tanah ini, kasih murni digaungkan oleh jiwa-jiwa agung yang telah tercerahkan. Itu akan beresonansi dengan orang-orang terpilih yang juga mengemban missi semesta dalam menyebarluaskan pure consciousness: Sadgguru di India, Dalai Lama yang mewakili spiritual kingdom di Tibet, Paus Fransiskus di Vatican, dan lainnya.

Mereka yang menjadi tonggak dalam gerakan global ini punya kesamaan: jiwanya murni, segenap kata dan tindakannya menebarkan aura kebahagiaan yang mutlak. Bung Karno dulu coba berkolaborasi dengan JFK (John F Kennedy) untuk membangun tatanan dunia baru yang lebih adil.

Mereka sama-sama terjungkal dari kekuasaan, meski BK berbeda ujung ceritanya dengan JFK. Simpul-simpul kekuatan spiritual di Indonesia yang dibangun sekaligus menopang BK dipreteli, dihancurkan satu persatu pasca pergantian rezim. Maka wajah Indonesia berubah total dari apa yang menjadi visi BK: Indonesia berbudaya sesuai jatidiri, berdaulat secara politik dan berdikari secara ekonomi. Justru tahun 2020 ini adalah momentum merealisasikan kembali cita-cita agung Bung Karno, yang berkelindan dengan proses membangun dunia baru yang lebih berkesadaran spiritual.

Perlu ditegaskan, Bung Karno adalah pribadi yang tercerahkan. Jiwanya merealisasikan kualitas dari Sanghyang Wisnu, meski belum sesempurna Sri Krisna. Yang pasti ia adalah pejalan spiritual yang otentik, bukan sekadar cendekia yang mengandalkan rasionalitas.

Lawannya di masa itu adalah kekuatan besar yang mencengkeram dunia secara politik dan ekonomi. Kharisma atau perbawanya datang dari kejumbuhan dengan Hingsun. Pancasila yang digalinya adalah permata spiritual yang dicita-citakan memandu jalan hidup bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia. Kejatuhan yang direncakan lawan-lawannya tak berjalan sesuai rencana. Ia punya exit strategy sebagaimana para pemimpin jenius lainnya.

Maka, api perjuangannya tak akan pernah padam. 2020 adalah momentum berkobarnya api ini. Tak hanya untuk menerangi Indonesia tapi juga dunia. Api perjuangan Bung Karno ini tak akan diestafetkan kepada orang-orang yang jiwanya keruh, terjebak halusinasi, dengan logika yang absurd. Maka, segala manuver kerajaan palsu hanyalah upaya dari agen-agen dark force yang mencoba membangun ketidakpercayaan publik terhadap gerakan spiritual yang mau tak mau pasti membawa label kuna - karena dari sanalah akarnya.

Bung Karno sebenarnya menghidupkan kembali spirit Sri Sanjaya, Airlangga, Ken Arok, Sri Kertamegara hingga Tribuwana Tunggadewi. Tapi profill mereka jelas berbeda dengan apa yang coba digambarkan oleh para Raja dan Ratu palsu yang membajak idiom-idiom agung dari masa silam. Para Raja dan Ratu kita di masa lalu adalah orang-orang tercerahkan yang dijuluki para Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.

Kalau Anda ingin tahu bagaimana vibrasi para tokoh ini, rasakan saja vibrasi dari Sadhguru, Dalai Lama dan Paus Fransiskus pada saat ini. Ada kesamaan yang esensial di antara mereka: sama-sama memancarkan vibrasi jiwa murni yang penuh kasih. Perubahan yang dicita-citakan Bung Karno, bermula dari revolusi kesadaran spiritual dan revolusi kebudayaan.

Maka, jelas merupakan kepalsuan jika ada yang membawa-bawa nama BK dan dana di Swiss lalu menjanjikan uang bagi siapa yang mengikutinya. Visi BK akan manusia Indonesia jelas bukan sosok pemalas yang menghabiskan waktu menunggu uang yang bukan milik mereka. Bung Karno memimpikan manusia Indonesia yang revolusioner, yang hidup penuh karya, yang bakti pada Ibu Pertiwi menyala di sanubari.

Jikapun Dana Revolusi BK di Swisss memang ada dan bisa diambil, maka itu pasti dipergunakan untuk menguatkan foundasi ekonomi Indonesia, membiayai prpyek-proyek strategis yang membawa Indonesia masuk ke jajaran negara maju. Bukan untuk dibagi-bagi yang malah menghancurkan mental dan tatanan perekonomian masyarakat.

Anda yang waras, di satu sisi tak akan terlibat dengan segala bentuk kerajaan palsu. Tapi saat yang sama juga tak akan menistakan simbol keagungan bangsa kita di masa lalu. Bangkitlah bangsa yang agung.

Related Posts

0 Response to "Sikap terhadap Kebenaran dan Kepalsuan"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan