Realitas Takdir



Image by Free-Photos from Pixabay
Takdir, Ini serapan dari bahasa Arab. Versi lengkapnya adalah Qadha & Qadar. Qadha artinya adalah Ketetapan, sepadan dengan kata Pepesten dalam bahasa Jawa. Qadar artinya adalah Ukuran, Kapasitas, sepadan dengan kata Jatah, Pandum, dalam Bahasa Jawa.

Konsep - konsep ini sejatinya tidak bertentangan dengan realitas free will, juga tidak berarti semua yang dialami manusia di masa lalu, masa kini dan masa depan sudah dituliskan, pasti terjadi, tidak mungkin berbeda dan berubah.

Qadha atau Ketetapan itu sama dengan Law of Universe : ini adalah tentang hukum sebab akibat, tarik menarik, dan lainnya, yang mengikat semua keberadaan. Manusia ada dalam bingkai hukum ini, apa yang menjadi kesadaran dan kualitas jiwanya menarik corak kehidupan yang datang.

Sementara kesadaran dan kualitas jiwanya ditentukan dari pilihan dalam berpikir, berkata dan bertindak. Law of Universe itu pasti, presisi dan adil. Justru dengan itu free will yang dimiliki manusia menjadi relevan...

Dengan kebebasannya dalam berkehendak, manusia memastikan hidup dan masa depannya sendiri dalam bingkai law of universe. Kalau dia menginput data tertentu ke mesin semesta, outputnya pasti sesuai dengan input itu. Semua dipastikan lewat hukum semesta yang adil, presisi dan pasti. Untuk mengubah output ya tinggal rubah inputnya.

Qadar, kapasitas, pandum atau jatah, adalah output dari laku manusia dimasa lalu termasuk kehidupan masa lalu. Saat terlahir di bumi manusia membawa hasil dari perbuatan dan kehendak bebasnya di masa lalu. Ini adalah realisasi dari law of universe.

Maka setiap orang menjadi punya talenta tertentu, hoki tertentu, rancangan lakon atau peran tertentu. Dipadukan dengan gerak transformasi dan evolusi semesta yang mempengaruhi jiwa, terbentuklah apa yang disebut Rancangan Agung yang membawa manusia menuju keadaan yang lebih sempurna, selaras.

Tapi manusia punya pilihan untuk hidup sesuai rancangan agung ini, dengan menerima qadar atau jatahnya, dan berlaku yang terbaik dalam konteks itu, atau memilih tindakan yang justru bertentangan dengan rancangan agung itu.

Maka hidup dan mass depan menjadi satu probabilitas, satu kemungkinan. Manusia dengan free willnya yang memastikan kemungkinan mana yang terjadi. Ringkasnya... Qadar itu modal dasar hasil pilihan bebas masa lalu. Qadha itu law of universe.

Jadi takdir itu adalah koridor kesemestaan yang membingkai kehidupan manusia, memberi aturan main yang adil, pasti dan presisi bagi semua manusia yang punya free will.

Maka, atas kesadaran ini, ciptakan kehidupan masa depan yang paling selaras dan terbaik dengan berbuat yang selaras dan terbaik pada saat ini dan di sini.

SUMELEH, NRIMA ING PANDUM

Sumeleh sepadan dengan surrender. Ini beda dengan give up, tidak bertindak karena putus asa.

Ini adalah sikap mengalir mengikuti gerak semesta yang agung agar terealisasilah Rancangan Agung. Sikap ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang hening yang sudah bisa menangkap pesan dan titah dari Guru Sejati yang bersemayam di dalam diri.

Nrima ing PANDUM adalah sikap menerima, tidak menyangkal, apa yang kita dapatkan sebagai hasil dari pilihan kita di masa lalu. Kita berarti tidak marah, kecewa, sedih, atas apa yang kita capai karena kita tahu itulah output yang sepatutnya dari input yang kita masukkan ke mesin proses semesta.

Ikhlas, identik dengan menerima tanpa syarat. Kita fokus memberi yang terbaik.. 100% upaya... Lalu membiarkan kekuatan semesta bekerja... Kita tidak memaksakan hasil apapun.

Kita hanya bergerak mengikuti tuntunan Guru Sejati, merealisasikan pure love atau unconditional love.: memberi tanpa menuntut kembali, lakukan yang terbaik tanpa paksakan hasil. SHD

Related Posts

1 Response to "Realitas Takdir"



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan