STORY OF SHD 19



Shd Channel

Asyik juga, Story of SHD 20 ditulis dan diunggah pada 02-02-2020, sebelum saya mewedar tentang Manusia Sejati dan memandu meditasi dalam Pasamuan Agung Debog Wengker di Ponorogo. Ini memang hari istimewa, menyusul keistimewaan yang terjadi pada 01-02-2020. Pada tanggal ini saya kembali mendapatkan momen loncatan kesadaran dan peningkatan energi. Rasa kasih yang murni semakin membuncah di sanubari. Demikian juga rasa bahagia yang mengalir dari relung jiwa, semakin dahsyat.

Saat kita terhubung semakin utuh dan penuh dengan Diri Sejati/Hing sun/Roh Kudus, semakin luruh sang aku dalam keagungan semesta. Rasa damai menyelimuti semua sel, semakin selaras diri dengan gerak dan irama semesta. Semakin sirna keinginan egoistik, yang ada adalah kesiapan dan kesetiaan total untuk merealisasikan kehendak dari Sang Sumber Hidup. Maka tak ada lagi akar duka berupa kesenjangan antara harapan diri dan kenyataan yang terjadi. Yang ada hanyalah keselarasan, kehendakNya adalah kehendakku, aku adalah wahana untuk merealisasikan rancangan agungNya.

Inilah cara menggunakan free will. Saya sangat sadar free will itu ada. Saya bebas berbuat apa saja dan memilih apa saja sebatas kapasitas dan kondisi yang dibentuk dari perjalanan jiwa di masa lalu. Saat yang sama, setiap tindakan atau pilihan pasti memberi dampak tertentu karena semua orang terikat hukum kausalitas. Dalam situasi ini saya memilih secara penuh kesadaran untuk mengikuti dengan total apapun titah Gusti yang tertangkap rasa sejati. Saya sangat setia, loyal, pada gerak semesta dari pusat hati saya, karena demikianlah nama saya: SETYO, SETIA. Resiko dari kesetiaan total ini saya tanggung sepenuhnya, mulai dari kehilangan nama baik hingga kehilangan nyawa. Saya selalu mengerti ada resiko terburuk yang bisa terjadi dalam lakon saya, dan saya sudah bersiap untuk itu. Apapun yang terjadi sebagai resiko pilihan saya, saya siap - saya berserah diri total. Inilah terapan dari ajaran Suwung. Suwung ing pamrih tebih ing ajrih..

Suwung ing pamrih tebih ing ajrih memang laku ketidakmelekatan pada apapun, ini tentang kesiapapan menerima apapun yang harus datang dan kesiapan melepas apapun yang harus pergi. Ini saya terapkan di semua ranah kehidupan termasuk ranah keluarga. Saya mengasihi dan menyayangi total istri dan anak-anak saya, ibu dan bapak saya, tapi tak ada kemelekatan sama sekali. Tindakan saya pada mereka disesuaikan dengan kehendak Hingsun bukan kemauan mereka. Saya memberi yang terbaik yang saya bisa, saya memerdekakan mereka untuk mengikuti alur perjalanan masing-masing,dan saat yang sama saya merdeka penuh untuk menjalankan lakon kehidupan dan missi agung saya. Ini yang kemudian menaikkan level of happiness anggota keluarga saya secara signifikan dibandingkan beberapa tahun lampau.

Saya gak pernah memaksakan siapapun termasuk anggota keluarga saya untuk mengikuti jalan spiritual yang saya ajarkan. Senua bebas merdeka, semua saya pastikan bisa menjalani apa yang terbaik menurut kesadarannya. Saya hanya konsisten memberkati, melimpahkan cahaya kasih yang paling murni. Jadi saya tak mengajari pencerahan secara teoritis kepada keluarga saya kecuali mereka sudah siap lalu bertanya. Saya memilih membuat mereka merasakan langsung vibrasi kasih, kebahagiaan dan kedamaian yang mengiringi pencerahan yang saya raih. Saya konsisten menerapkan prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika mulai dari ranah keluarga.

01-02-2020 juga menjadi momen datangnya kejelasan tentang lakon atau missi agung untuk beberapa tahun ke depan. Apa yang biasa menjadi lakon saya di berbagai fase kehidupa sebelumbyan, tengah dipersiapkan untuk kembali berulang. Pelajaran yang hendak saya tekankan adalah, hidup yang serba indah dan asyik itu memang pasti terjadi saat tiada lagi obsesi, ambisi dan hasrat berkompetisi. Cukup menjadi diri sendiri secara otentik, buatlah mahakarya sesuai talenta, dan bersukacitalah. Tak perlu paksakan untuk menjadi apa dan meraih apa. Mengalir saja, rayakan keindahan dan keagungan hidup pada saat ini dan di sini.

Para pemirsa, di penghujung khotbah kali ini, eh...maksudnya diujung cerita kali ini, selalulah ingat, nama saya SETYO HAJAR DEWWANTORO. Saya cowok penghibur segala bangsa dan agama. 01-02-2020, semua bersatu dalam kasih murni. 02-02-2020, terjadilah kebangkitan itu. Kekuatan Suwung membuat perubahan besar terjadi dengan sangat cepat.

Enjoy, nikmati kopi atau teh Anda.... Filmnya makin rame, I SWEAR....... Hi hi hi hi
0 Response to "STORY OF SHD 19"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan