STORY OF SHD 4



Sanggar Mahadaya Tari

Hari ini tanggal 14 Desember 2019, saya mulai menjalankan missi global di Roma pada tataran materiil. Saya menari pada acara Panggung Budaya Indonesia yang diselenggarakan Kedubes RI untuk Tahta Suci Vatican Saya membawakan tiga tarian: Hingsun yang mengganbarkan kejumbuhan dengan Diri Sejati, Titi Kalamangsa, yang menggambarkan tiba masanya kebangkitan spiritual global. Dan ketiga adalah Garuda Pala yang menggambarkan bangkitnya The Spiritual King. Dalam acara yang sama para penari dari Sanggar Mahadaya Tari akan menampilkan beberapa tarian daerah Bus antara: dari Kaltim, NTT, Papua, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Jawa Barat. Kami menari di hadapan Duta Besar beberapa negara, juga para pastor dan suster dari berbagai negara yang belajar di Vatican.

Momen ini datang begitu saja, tanpa direncanakan. Inilah yang dinamakan gerak semesta. Saya hanya mengikuti gerak semesta itu, dalam tuntunan Hingsun. Satu fondasi bagi kebahagiaan sorgawi yang terus menerus adalah kesetiaan yang total kepada Hingsun sebagai keberadaan Tuhan di dalam diri. Sebagai manusia, saya jelas sangat manusiawi, punya ego dan free will. Tapi setiap saat saya berusaha untuk menangkap titah Hingsun, dan saya jalankan itu melampaui segenap keraguan dan ketakutan. Mulai dari hal kecil seperti memilih baju dan hotel hingga hal-hal yang lebih strategis, saya setia penuh pada Hingsun. Keinginan pribadi saya yang kadang muncul pasti saya abaikan jika itu tak selaras dengan Titah Hingsun.

Maka, kemana saya pergi, bersama siapa, menemui siapa, semuanya mengikuti satu rancangan agung yang saya tangkap melalui rasa sejati. Dengan cara inilah yang terus bertumbuh dan semakin merealisasikan rancangan agung untuk kelahiran saat ini.

Tahun 2012 saat tengah malam meditasi di Parangkusumo, ada 2 merpati putih yang menclok di badan saya, hanya mau mengikuti atau disentuh oleh saya, dan baru dilepas di Kahyangan Dlepih Wonogiri. Saya baru mengerti maknanya saat ini, karena setelah momen itu saya masih sempat nyasar-nyasar.

Tahun 2014 saya mengalami momen perjumpaan dengan Dewa Ruci seperti yang di gambar kan dalam lakon wayang Dewa Ruci. 2015 saya mengalami apa yang kemudian saya mengerti sebagai momen Suwung: rasa melebur dengan sumber hidup yang tanpa batas, terasa diri sirna yang ada hanya kesadaran murni. Pada momen ini tentu jiwa saya menjadi sangat jernih, saya menjangkau LoC 1000 beberapa saat tapi kemudian terjatuh lagi karena saya belum bisa melepaskan diri dari jerat ketidakmurnian, dan masih menjalani hidup dengan baperan.

Tahun 2018 adalah momen yang menjadi titik tolak untuk stabilitas dalam kesadaran spiritual yang tinggi. Dan saya menjadi sangat peka, menjadi sangat gamblang saat membaca manusia: saya sangat mudah dan cepat untuk membaca seseorang itu jiwanya murni apa tidak, punya bakat tercerahkan apa tidak terkait dengan pencapaian jiwanya di masa lalu, apakah punya luka batin apa tidak dan jika punya itu terkait dengan apa, sampai jika seseorang berkolaborasi dengan makhluk alam bawah saya mudah untuk tahu itu jenis apa dan jumlahnya berapa.

Tapi jangan bayangkan saya serba tahu. Saya hanya diberi pengetahuan yang relevan dengan missi jiwa saya. Maka jangan suruh saya nebak nomor togel atau sejenis itu, juga jangan tanya ke saya mekanisme kerja pompa air atau pesawat, saya tidak tahu. Setiap orang punya talenta masing-masing, talenta saya ya tentang manusia dan spiritualitas.

Terkait dengan peran sebagai Guru Spiritual, saya menulai dari level kampung pada 2014, dan di 2019 mulai masuk ke level global. 2020 akan menjadi momen penegasan untuk kiprah secara global.

Untuk menuju tataran ini, tentu tidak mudah. Berkali-kali saya mengalami bubarnya komunitas, karena mereka enggan ikut bertumbuh seiring saya bertumbuh. Maka vibrasi menjadi tak selaras, mereka yang semua dekat dan jadi murid saya berubah sikapnya: mereka menjauhi saya karena menganggap saya telah gila atau tersesat.

Sepanjang perjalanan itu setiap hari ya harus menghadapi serangan metafisik. Pada beberapa momen anggota keluarga saya yang menjadi korban. Namun tiada keluhan untuk itu: keluarga saya dengan cara yang belum sepenuhnya mengerti, telah dipersiapkan untuk mendukung peran saya ini.

Untuk yang memang berminat belajar spiritual guna mencapai pencerahan, teruslah melangkah dengan ketulusan niat yang dibarengi kewaspadaan atau kehati-hatian. Hanya dengan begitu tujuan utama bisa dicapai.

Saya lanjutkan besok. Saya siap-siap menari dulu.

Roma, 14 Desember 2019
0 Response to "STORY OF SHD 4"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan