STORY OF SHD 7



Typing, Work
Image by Pexels from Pixabay

Saya lama bekerja dalam lingkungan yang menekankan kemampuan logika. Selain pernah menjadi bagian dari tim konsultan di lembaga pemerintahan, saya juga lama menjadi peneliti sosial dan berkecimpung dalam pemikiran kritis. Jadi, secara natural saya pasti sangat menggunakan logika saya termasuk ketika saya memasuki dunia spiritual.

Ternyata memang spiritualitas bukan tentang meninggalkan atau menanggalkan logika, tetapi memadukannya dengan apa yang dalam Bahasa Jawa dinamakan rasa sejati. Terjun dalam laku spiritual berarti memperluas cakupan input bagi proses analisa yang dilakukan oleh otak. Dayagunakan rasa sejati maka realitas yang bisa dijangkau menjadi lebih luas. Sebagai manusia, tetap saja otak harus bekerja untuk bisa memahami semua yang dialami. Perbedaan antara yang sudah tercerahkan dan belum tercerahkan sebetulnya bukan terletak pada terpakai tidaknya otak. Ini hanya tentang input yang lebih kaya pada mereka yang tercerahkan karena pengalaman yang meluas saat memasuki keheningan. Mereka yang tercerahkan juga sangat berpegang pada logika; mereka yang tercerahkan juga memegang prinsip bahwa kebenaran terletak pada konsistensi premis.

Jika ada pernyataan “Lampauilah logika”, itu maksudnya adalah lampaui logika empirik, yaitu logika yang hanya bekerja berdasarkan input atau masukan data dari panca indera. Pernyataan ini juga dimaksudkan untuk menyatakan kebenaran bahwa dalam keheningan kita bisa mengerti sesuatu tanpa proses analisa secara formal dan sistematis menggunakan otak (tepatnya: instrumen rasional pada otak). Kita tiba-tiba mengerti begitu saja; menggunakan rasa sejati pengertian bisa tumbuh di dalam otak kita dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Dalam meditasi atau penyelaman keheningan, otak memang tetap dipergunakan. Tetapi fungsinya diminimalisasi: fungsi mengingat masa lalu, fungsi membayangkan masa depan, fungsi menganalisa, diistirahatkan dahulu. Yang dipakai hanyalah fungsi otak sebagai pemerhati. Pada saat otak memperhatikan apa yang terjadi pada momen kekinian, otak akan terhubung dengan rasa sejati dan masuklah pengertian-pengertian ke dalam otak baik yang didahului proses menganalisa pengalaman dalam keheningan, maupun lewat semacam transfer pengertian dari rasa sejati ke otak tanpa otak melakukan analisa terlebih dahulu. Jadi, dalam keheningan otak tetap bekerja tetapi yang digunakan adalah fungsi observasi dan fungsi kognisi.

Mereka yang menggunakan logika empirik dan tidak berendah hati terhadap pengalaman orang lain yang bisa jadi berbeda, akan cenderung menghakimi para spiritualis sebagai orang yang terjebak dalam halusinasi. Itu wajar karena para spiritualis bisa mengungkapkan realitas yang tak terjangkau oleh orang-orang yang hanya menggunakan panca indera. Dengan pineal gland dan rasa sejati yang telah “teraktivasi”, memang manusia bisa menjangkau secara visual, audio, sense maupun kognisi realitas yang non-material. Jadi, terhubung dengan malaikat, dewa dewi, ataupun dengan penghuni dimensi bawah seperti siluman, jin, maupun alien nakal, bukanlah hal yang aneh. Termasuk mengetahui jiwa manusia yang telah meninggalkan tubuhnya ada di dimensi mana dan dalam keadaan seperti apa, adalah hal yang wajar saja.

Banyak orang yang punya pengalaman spiritual demikian kaya, kesulitan membahasakannya sehingga bisa dimengerti orang lain. Sebabnya adalah, mereka itu rasa sejatinya sangat hidup tetapi kecerdasan rasional (IQ)-nya kurang tinggi atau kurang terlatih dalam tradisi akademik/saintifik. Atau, di otak mereka tak tersedia kosakata yang cukup untuk membahasakan apa yang dialami. Tentu saja ini bukan kesalahan, karena segala kelebihan dan kekurangan ini dikembalikan kepada peran masing-masing.

Untuk menjalankan peran seperti saya ini memang dibutuhkan tingkatan maksimal baik dalam Spiritual Intelligence, Rational Intelligence maupun Cosmic Intelligence. Jadi bukan hanya tajam rasa sejati dan hidup pineal glandnya, tetapi juga kudu genius. Jadi, detailnya mengapa saya bisa mengungkapkan issue-issue spiritual dengan bahasa yang relatif mudah dimengerti adalah karena saya memiliki tiga faktor: pertama, saya memang punya pengalaman spiritual yang kaya sebagai buah dari ketekunan menyelami keheningan – dan ini ditopang oleh telah teraktivasinya rasa sejati saya dan pineal gland saya terutama untuk fungsi sense dan kognisi; kedua, IQ saya terbilang tinggi sehingga saya punya kecakapan untuk menganalisa, mengerti dan membahasakan semua pengalaman itu; ketiga, dulu saya rajin membaca buku sehingga di kepala saya tersedia kosa kata yang berlimpah dan relevan untuk mengungkapkan segala pengalaman spiritual saya.

Apakah semua pengalaman spiritual saya kemudian saya langsung pegang penuh sebagai kebenaran? Apakah saya kemudian juga meluangkan waktu memvalidasi temuan-temuan saya kepada orang lain?

Begini, seperti yang sudah saya nyatakan bahwa saya telah terbiasa hidup dengan cara yang logis. Maka, kemampuan logika saya tetap saya pergunakan. Saya membuka diri untuk melakukan validasi terhadap apa yang saya temukan dan ungkapkan. Tentu saja, yang saya minta memvalidasi adalah orang-orang yang memang punya kemampuan untuk menjangkau dimensi non-material. Tunjung Dimas Bintoro yang menjadi anggota tim saya di Mahadaya Institute adalah salah satu orang yang sering saya minta memvalidasi. Tunjung masih berusia 26 tahun, tetapi sudah punya pengalaman belajar spiritualitas yang matang. Sejak kecil kemampuan visual dan audi yang berakar pada pineal glandnya telah teraktivasi. Lalu sejak remaja telah belajar kepada sesepuh di Gunung Lawu bernama Mbah Ju yang menguasai ngelmu Jawa Kuna termasuk Ngelmu Syahadat Pasinggahan Jati yang diturunkan melalui jalur Sunan Kalijaga.

Dalam proses belajarnya Tunjung juga sangat gentur bertapa brata termasuk melalui berbagai macam laku puasa. Perjumpaan kami secara fisik terjadi tahun 2016 di Surabaya, dan dia berpegang kepada tutur gurunya Mbah Ju bahwa akan menemukan pembimbing baru sepeninggal Mbah Ju yang datang dari arah Barat. Setelah dinamika yang tak mudah karena usia mudanya, pada akhirnya Tunjung bisa konsisten menjadi anggota tim saya dan dengan perwira mendukung missi agung menyebarluaskan kesadaran secara global. Termasuk yang memantapkan Tunjung sehingga mantap berjalan bersama saya adalah karena berkali-kali didatangi jiwanya Mbah Ju yang mengingatkan untuk tetap hening, jangan terjebak asumsi, tetap setia. JIka ada tindakan dan pernyataan dari saya yang kontroversial atau belum dia mengerti, Mbah Ju ingatkan agar Tunjung bersikap netral dulu lalu bertapabrata untuk menjernihkan jiwa, karena hanya dalam kejernihan jiwalah apa yang saya katakan dan lakukan bisa dimengerti.

Selain Tunjung Dimas Bintoro, saya masih punya belasan orang lain yang biasa saya tanya bagaimana penyaksian mereka terhadap apa yang saya temukan. Jadi, secara logis apa yang saya ungkapkan sebenarnya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Itu telah memenuhi setidaknya kriteria kebenaran kolektif karena telah dinyatakan sebagai kenyataan dan kebenaran oleh bebeberapa orang. Di antara mereka ini, ada yang kuat dalam kemampuan visualnya, ada yang kuat dalam kemampuan audionya, atau kuat dalam kemampuan sensenya. Ada juga yang kuat dalam ketiga-tiganya, termasuk ada yang lengkap karena sekaligus kuat dalam kemampuan kognisinya. Dari latar belakang akademis mereka juga beragam, ada yang anak alam tak pernah mengenyam bangku sekolah tinggu, ada juga yang lulusan perguruan tinggi bonafid.

Maka, semua yang saya tulis di dalam buku, saya wedarkan dalam kajian, workshop atau retreat, juga saya tulis di Medsos, adalah sesuatu yang telah disaring dengan matang, bukan asal-asalan. Semua adalah bagian dari penunaian missi agung membangkitkan kembali kesadaran luhur yang terkubur melalui collective mind programming oleh tangan-tangan tak terlihat yang punya niatan destruktif.

Kuningan, 19 Desember 2019

Related Posts

0 Response to "STORY OF SHD 7"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan