STORY OF SHD 3



SHD Channel, Journey

SHD Channel - Perjalanan hingga mencapai keadaan sekarang, dengan lakon sebagai "Guru Spiritual", bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak tantangan yang menghadang. Saat pertama saya berupaya untuk " berjalan sendiri", pada tahun 2016, batas antara hidup dan mati sangat tipis. Beberapa kali saya mendapatkan serangan metafisik yang bisa berdampak fatal. Saat terkena serangan metafisik dan benar-benar sakit, jalan pamungkasnya adalah pasrah. "Kalau memang harus mati ya matilah.

Aku terima, aku pasrah". Kalau sudah sampai ke titik ini biasanya ya sembuh mendadak Namun seiring waktu, energi saya bertumbuh sehingga tak terjangkau lagi oleh serangan metafisik itu. Power saya kini menjadi jauh lebih besar daripada yang nyerang. "Lawannya" juga sudah beda, seiring dengan naiknya level dan perluasan wilayah kerja. Di tahun 2019, pertarungannya sudah beda lagi.

Mungkin ada yang bertanya, la kok Guru Spiritual pake bertarung segala? Jangan culun, he he.. Siapapun yang menjalankan missi kebenaran ya pasti dapat lawan, itu sudah hukum alam. Silakan saja Anda masuk ke kantor yang korup, lalu jadilah orang bersih dan idealis, pasti ya banyak musuhnya. Sama saja, saat kita menyebarkan cahaya kesadaran di tengah bumi yang tercengkeram ilusi, otomatis kita berhadapan dengan para pencengkeram ini. Lawan saya sekarang bukan kelas siluman lokal lagi, tapi alien-alien yang ada di balik pusat kekuatan dunia. He he he he.

Sebelum kita lanjut dengan cerita seru tentang pertarungan antara kekuatan "jernih" dan "keruh" di tingkat global, saya mau cerita dulu tentang masa lalu saat hidup saya bagai neraka. Jika sekarang bisa dikatakan saya hidup di sorga yang nyata, 3-4 tahun yang lalu saya masih ada di neraka yang nyata.

Apalagi jika menengok 10-16 tahun lalu, lebih tragis lagi. Jadi saya bisa tahu betul bedanya dampak dari jiwa yang murni dan jiwa yang keruh. Punya jiwa murni memastikan kita merasakan kebahagiaan sorgawi yang memancar dari dalam diri, dan berlanjut dengan selarasnya aspek-aspek kehidupan duniawi: soal pekerjaan dan uang, keluarga, kesehatan dan lainnya.

Saya pernah ada dalam situasi yang sangat sulit, kurang duit, harus keluar atau dikeluarkan dari pekerjaan karena idealisme, bolak balik bangkrut dalam bisnis, prahara rumah tangga, dan semacamnya. Saya sempat protes pada Tuhan, "Mengapa saya harus mengalami derita ini? Sementara saya bukan penjahat dan rajin beribadat? "

Jawabannya baru saya tahu saat saya mulai dapat pencerahan pada 2 tahun terakhir ini. Saya terlahir tidak membawa beban karma buruk. Saya bisa katakan ini karena saya tahu siapa saya dulu dan bagaimana pencapaian saat itu. Saya memilih terlahir di keluarga yang sangat bersahaja. Dan tentu saja dengan badan baru ini saya harus mulai dari nol.

Saya mulai dengan ketidaksadaran, saya amnesia dengan kebijaksanaan yang pernah dicapai. Dalam ketidaksadaran itulah saya menumpuk ilusi, menciptakan luka batin, berbuat dosa, dan mengeruhkan energi diri. Maka wajar jika ada fase saya mengalami derita, itulah yang namanya ngunduh wohing pakarti. Neraka yang sempat saya alami adalah proyeksi kekeruhan jiwa saya sendiri. Saya baru bisa menjernihkan semuanya dengan total sekitar September 2018. Saat itulah tingkat kejernihan tubuh emosi, tubuh energi, tubuh pengetahuan dan tubuh karma mencapai 100%.

Beruntunglah yang masih setia belajar pada saya hingga saat ini, karena Anda berjatah menemui diri saya yang mulai merealisasikan penuh rancangan agungnya. Yang terus belajar pada saya mulai 2014 hingga kini 2019 tentu bisa menangkap seperti apa bedanya. Terlebih tahun 2019 ini adalah momen akselerasi untuk persiapan kiprah 2020.

Saat jiwa saya murni karena telah bisa menyembuhkan luka batin dan membakar semua dosa, yang ada adalah keberuntungan, sinkronisitas, constant happiness. Hidup ini menjadi sorga yang nyata.

Karena saya mulai ada di peak performance, maka wajar saat ini banyak murid saya yang tercerahkan. Jika pakai LoC, setidaknya ada sekitar 50 orang yang telah mencapai LoC 1000 dan telah hidup dalam suasana surgawi. Ini bukan hidup tanpa masalah, tapi bagaimana kita tetap damai dan cakap menangani masalah.

Pertama kali saya mengajar meditasi dan ngelmu urip, di satu gubuk kecil yang didiami ayah saya. Gubuk itu sering jadi tempat pelarian diri bagi orang-orang yang capek diomelin istrinya, yang butuh tempat tenang untuk otak atik nomor togel, atau sekadar cari tempat aman untuk minum anggur cap orang tua he he. Jadi murid-murid pertama saya keren-keren banget he he.

Murid ke2 dan ke3 masih bersama saya dan telah menemukan sorga nyatanya masing-masing. Merdeka adalah Mas Giok yang jago mijat dan Mas Wawan yang ahli Divine Healing. Sementara murid pertama saya lepas karena memilih jadi dukun he he he

Saat ini jika dihitung telah ribuan yang belajar pada saya, tapi sebagian memilih berpisah. Alasannya macam-macam, ada yang punya konsep tak ada guru murid sehingga gak nyaman saat saya makin jelas jadi Guru Spiritual.

Ada yang memutuskan menjauh dan rajin bergossip tentang saya karena gara-gara hal sepele: ada yang nganggap saya gak warns karena sering ngukur LoC, ada yang mutung karena debat di sebuah grup dengan murid lainnya dan diingatkan untuk kembali pada apa yang saya ajarkan, ada yang mutung karena saya lupa undang dia datang ke pertemuan di rumah orang yang dia kenalkan ke saya, ada yang ngambek karena pas saya ajak kerja bareng saya agak galak karena dia low performance sementara saya bayar terbilang besar dan saya harus tanggung jawab pada perusahaan multinasional yang mempekerjakan saya.

Dia sangka kasih murni harus selalu lembut. Ada juga yang menjauh karena gossip, atau terprovokasi oleh orang yang sengaja menyusup dan pura-pura jadi murid. Yang pasti gak ada yang saya tipu secara finansial atau saya manipulasi - jika ada yang merasa saya rugikan dan baca tulisan ini, silakan hubungi saya, no WA saya gak berubah, dan kita bereskan apa yang dipermasalahkan.

Soal murid yang menjauh, apapun latarnya, intinya satu: saat vibrasi murid dan guru tak lagi selaras ya pasti saling menjauh. Itu hukum alam. Jadi saya santai saja. Lagian saya gak berobsesi punya banyak pengikut: saya bekerja keras membantu yang berjatah untuk tercerahkan. Mau berapa jumlahnya gak saya pikir.

Kita sambung di episode berikutnya.

Roma, 13 December 2019

Related Posts

0 Response to "STORY OF SHD 3"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan