STORY OF SHD 12




shd channel
Image by John Hain from Pixabay
SHD Channel - Dulu saya punya persepsi, asal kita duduk diam (seperti meditasi) dan mengunjungi tempat-tempat yang disakralkan, maka berarti kita sudah menjalani laku spiritualis dan layak dijuluki spiritualis. Ternyata, berdasarkan pengalaman pribadi semua itu tak menjamin kita mencapai apa yang menjadi tujuan utama dari laku spiritual. Merujuk kepada para tokoh spiritual legendaris, mulai dari Sri Rama, Sri Krisna, Yeshua Ha Mashiah hingga Babaji, laku spiritual bertujuan agar setiap orang bisa merealisasikan kualitas-kualitas ketuhanan di dalam dirinya, mencapai keadaan sebagaimana asal mulanya sebagai banyu kahuripan atau cahaya yang paling murni – inilah yang disebut bali marang sangkan paraning dumadi. Dalam bahasa lain, laku spiritual juga bertujuan merealisasikan prinsip jumbuh kawula dan Gusti – inilah yang dinyatakan oleh Yeshua sebagai “Aku menjadi Dia, Dia menjadi aku, menyatu sepenuhnya – kehendakNya menjadi kehendakku.”

Mereka yang telah mencapai tujuan utama dari laku spiritual berarti telah mencapai fase tercerahkan paripurna, mencapai kesadaran murni. Setelah saya mulai mengalami fase ini, barulah saya mengerti apa maksud dari semuanya. Ada kriteria-kriteria yang mesti dipenuhi agar seseorang layak dijuluki sebagai spiritualis, guru spiritual atau orang tercerahkan. Secara kualitatif, kriterianya adalah, pertama, mereka telah mencapai kemurnian pada aspek emosi: di dalam dirinya yang ada hanyalah kasih murni, tak ada egoisme, amarah dan dendam, rasa bersalah, kepedihan, dan emosi destruktif lannya. Secara energi juga jernih tak ada parasit energi yang menjerat diri. Ini bicara juga tentang frekuensi energi yang dipancarkan oleh seseorang. Mereka yang punya kasih murni, punya frekuensi energi yang berbeda dengan mereka yang masih diliputi egoisme, amarah dan semacamnya. Nah, dengan frekuensi yang berbeda inilah maka keterhubungan dengan entitas lain dimensi juga menjadi berbeda: mereka yang tercerahkan hanya akan terhubung dengan entitas yang juga punya kasih murni, yaitu para malaikat, dewa dewi, ancient avatar dan semacam itu. Tak mungkin mereka membiarkan badannya ditunggangi oleh entitas dengan frekuensi vibrasi rendah yang memancarkan vibrasi egoisme, amarah, dendam, semacam siluman, jin, dark alien, dan sebangsanya. Jadi orang-orang tercerahkan pasti memiliki kemurnian secara energi. Mereka yang tercerahkan juga telah bisa memurnikan tubuh karmanya.

Saya telah tuliskan bahwa siapapun termasuk para Avatar itu pernah berbuat salah di fase ketidaksadarannya, tapi mereka sanggup membersihkan jiwanya dari jejak kesalahan itu. Lalu mereka konsisten ada di dalam kejernihan tubuh karma karena kehendaknya telah menyatu dengan kehendak Sang Sumber Hidup. Berikutnya, mereka yang tercerahkan juga jernih tubuh pengetahuannya, mereka telah terbebas dari ilusi. Mereka tidak punya kemelekatan pada agama, tradisi atau apapun. Yang ada di dalam diri mereka adalah kesadaran yang murni dan kebenaran sejati. Secara kuantitatif, saya menyebutkan bahwa fondasi dari orang yang tercerahkan adalah tercapainya angka kejernihan 100% pada tubuh emosi, energi, karma dan pengetahuan.

Mereka yang telah tercerahkan seluruh cakra atau simpul energinya telah mekar atau terbuka sempurna. Ini sangat ditentukan dari tingkat kebangkitan kundalini. Hanya mereka yang kundalininya bangkit sempurna yang semua cakranya juga terbuka sempurna. Gambaran visual mereka yang terbangkitkan sempurna kundalininya adalah ada ular melintang vertical di tubuhnya, lalu di cakra mahkotanya muncul bentuk bunga teratai yang mekar sempurna. Dalam bahasa kuantitatif, mereka yang mencapai tataran ini berarti tingkat aktivasi kundalini mencapai 100 %, tingkat keterbukaan cakra mahkota dan cakra lainnya 100%, dan tingkat Cosmic Inteliigence atau Kecerdasan Kosmik ada di titik optimal : 1000 dalam skala 0-1000. Yang perlu dicatat, tidak mungkin ini semua terjadi tanpa memiliki kemurnian jiwa. Misal, jika tubuh emosi tingkat kejernihannya cuma 50% tak mungkin kundalini bangkit 100 %, karena noda emosi itu menjadi blocking yang nyata dalam jalur kundalini. Demikian juga kundalini tak mungkin terbangkitkan sempurna jika seseorang masih belum bisa membersihkan tubuh karmanya. Orang boleh saja mengaku maestro kundalini, tapi sangat mudah divalidasi itu pengakuan yang benar atau tidak dengan melihat realitas jiwanya: emosinya, karmanya, persepsinya, dan energinya.

Saya bisa menjelaskan ini semua karena mengalaminya. Bukan karena saya membaca literatur apapun. Dan saya diberi anugerah kemampuan membahasakan dengan jelas dan lugas apa yang saya alami, dalam bahasa manusia modern. Proses kebangkitan kundalini saya mencapai titik sempurna memang terjadi setelah jiwa saya dimurnikan secara tuntas. Pemurnian ini terjadi saat saya memandu retreat di Umajero Buleleng Bali sekitar bulan September 2018. Setelah itu muncul fenomena-fenomena lanjutan mulai dari kebangkitan sempurna kundalini, realisasi kesetimbangan yin yang, kesadaran menyatu dengan jagad raya, kesadaran diri yang meliputi jagad raya, hingga kesadaran sirnanya diri sebagai entitas karena lebur dengan kekosongan absolut.

Berdasarkan ini semua, saya bisa mengatakan bahwa kita tidak bisa mengatakan asal orang telah duduk diam seperti meditasi dan berkunjung ke tempat-tempat yang disakralkan, berarti mereka adalah spiritualis atau terlebih pakar spiritual. Tidak bisa juga langsung kita menyatakan, asal seseorang terlihat punya kesaktian tertentu, bisa nerawang, bisa bicara tentang spiritual, mereka adalah spiritualis juga. Kunci dari spiritualitas adalah keterhubungan dengan Spirit atau Esensi Diri atau Roh Kudus, yang berbuah kejernihan jiwa. Maka, bisa jadi justru orang yang tak terlihat rajin meditasi, tidak memakai pernak pernik spiritual, dia hanya seorang petani bersahaja, atau bahkan seorang CEO di perusahaan besar, adalah spiritualis yang sesungguhnya. Ukurannya bukan pada penampakan fisik, tapi keadaan jiwa yang serba murni.

Saya sendiri tak malu mengakui pernah keliru jalan, merasa telah ada di jalan spiritual tetapi sesungguhnya jauh dari pencapaian tujuan sesungguhnya dari laku spiritual. Tapi siapapun yang telah salah jalan, tak perlu berkecil hati. Itu semua bagian dari proses, yang penting kita tulus dalam menjalani segala sesuatunya lalu bergegas kembali ke jalan yang benar. Jangan jadi orang keras kepala yang menolak segala sinyal semesta dan mengabaikan nasihat yang tulus, karena kadung menikmati berada di jalan yang keliru.

Kuningan, 31 Desember 2019

Related Posts

0 Response to "STORY OF SHD 12"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan