Danyang



Danyang
Danyang adalah terminologi khas Jawa, sekalipun realitasnya tentu saja ada di semua tempat di jagad raya ini. Intinya danyang adalah entitas metafisik yang bertugas menjaga atau melindungi suatu tempat. Dalam bahasa lain mereka dijuluki Ingkang Mbahurekso (Yang bertanggung jawab/mengatur/menjaga keselarasan). Di setiap daerah di Nusantara tentu saja ada penamaan yang berbeda-beda untuk entitas ini. Di Bali, danyang dikenal dengan nama Betara/Betari Lingsir, yang artinya adalah entitas suci yang disepuhkan dan menjadi pelindung sebuah kawasan tertentu – terutama kawasan yang dianggap sakral dan merupakan portal energi.

Di kawasan seperti Nusantara, tentunya tidak hanya ada satu danyang, tapi banyak sekali. Cakupan wilayah dan dimensi yang dijaga atau dilindungi oleh para danyang ini berbeda-beda sesuai dengan kapasitas masing-masing. Semakin tinggi hiearki danyang, semakin luas cakupan wilayah dan dimensinya. Dan bisa dinyatakan bahwa sebagian danyang memang berasal dari kalangan dewa/dewi. Sementara lainnya adalah manusia yang karena laku spiritualnya, di kehidupan berikutnya mendapatkan tugas di dimensi yang lebih tinggi tetapi masih terkait dengan bumi.

Di Jawa, danyang yang paling terkenal adalah Sang Hyang Ismaya Jati karena beliau dijuluki juga sebagai Danyang Tanah Jawa. Beliau sejatinya adalah sosok dewa atau entitas cahaya yang memang bertugas menjaga keselarasan di Tanah Jawa pada khususnya dan Nusantara pada umumnya, sekaligus berperan memomong atau mengasuh para ksatria di Nusantara. Sang Hyang Ismaya Jati dikenal dengan banyak nama. Julukan lainnya antara lainnya adalah Semar Badranaya. Orang-orang di Jawa memanggilnya dengan penghormatan: Kaki Semar Badranaya. Kaki berarti kakek atau sesepuh yang dihormati. Di Bali, ia dikenal sebagai Hyang Tualen. Sementara di Tatar Parahyangan, ia dijuluki Sanghyang Betara Lengser.

Sosok lain yang juga cukup terkenal sebagai danyang di Nusantara adalah Kanjeng Ibu Ratu Kidul yang secara fisik kita mengerti bertahta di Laut Selatan (Samudra Hindia). Ia juga merupakan entitas cahaya atau seorang dewi. Tugasnya adalah menjaga keselarasan di Nusantara dan mengasuh jiwa-jiwa murni yang sedang bertumbuh menuju pencerahan dan kesempurnaan jiwa.

Sebagian orang menganggap Kaki Semar dan Kanjeng Ibu Ratu Kidul sebagai demit atau siluman. Tentu saja ini tidak tepat. Sebagian mereka yang menyatakan ini memang tidak tahu realitas sebenarnya tapi merasa tahu. Sebagian lainnya memang dengan sengaja melakukan itu untuk mendiskreditkan tradisi spiritual Nusantara.

Lebih jauh tentang danyang, bisa dinyatakan bahwa setiap desa, setiap mata air, sungai, danau, gunung, laut, dan berbagai tempat lainnya termasuk bangunan-bangunan yang didirikan diportal energi seperti candi dan pura, pasti dijaga oleh danyang tertentu. Maka dalam tradisi Bali, terdapat terminologi Ida Betara Lingsir yang menjaga kawasan gunung, bukit atau tempat-tempat sakral seperti pura dan candi, Dalem Beji yang menjaga mata air, Dalem Segara yang menjaga lautan, dan lain-lainnya.

Dalam laku Sastrajendra, kita menempatkan para danyang ini sebagai pihak yang dihormati dan diminta restu saat kita menjalankan manekung/meditasi di tempat yang mereka jaga. Jadi posisinya mereka identik dengan pihak yang kita tuakan sehingga kita hormati. Lebih dari itu, kita juga memberkati mereka sehingga danyang yang level vibrasinya masih ada di frekuensi yang relatif rendah, bisa semakin bertumbuh menuju kesempurnaan – yang salah satu realitasnya adalah mereka terlahir di dimensi yang lebih tinggi. Inilah sebenarnya penerapan dari prinsip hamemayu hayuning bawana.
0 Response to "Danyang"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan