APAKAH SURGA DAN NERAKA BENAR-BENAR ADA?







Gusti Ingkang Welas Hasih sarta Handeg Wikan lan Waskita. Huga Gusti  wus maringi pangerten marang jalma tumitah Djowo, lan jalma tumitah liyane, kang hana hing  karasuh kiye. Tumindako kang trep marang sakpadha-padhaning hurip, huga tumindako kang walaka marang Gusti , nganggo rasa kang hana hing raga sira. Semono huga Gusti  bakal piwaneh piwales, marang hapa kang sira lakoni hing Baka Mulya kene, huga hing Karasuh Moporoso mengkone.

Gusti Yang Maha Pengasih dan Maha Bijaksana.  Juga Gusti yang memberi pengertian kepada orang Jawa, dan manusia lain yang ada di jagad ini.  Bertindaklah secara tepat kepada sesama yang hidup, juga bertindaklah jujur kepada Gusti, menggunakan rasa yang ada di ragamu.  Demikian juga Gusti, akan memberikan balasan, terhadap apa yang kamu lakukan di bumi ini, juga di jagad langgeng kelak.

Sengkala kang hana hing baka mulya, Hulun kabeh kang nandang.   Huga marang bebendhu Gusti, yen Hulun wus bali.

Sengkala yang datang di bumi ini, hulun semua yang menanggung.  Juga terhadap buah perbuatan yang ditetapkan Gusti, ketika hulun kembali.

Apakah surga dan neraka sebagai tempat memberi ganjaran dan hukuman bagi manusia sungguh-sungguh ada?  Penulis hendak mengulas perkara ini baik dengan merujuk kepada kesadaran para leluhur Nusantara yang tertuang di dalam Layang Djojobojo (Layang Nata) maupun berdasarkan kesadaran pribadi setelah menekuni meditasi secara intensif.

Layang Djojobojo (Layang Nata) secara gamblang menjelaskan kemungkinan manusia memperoleh bebendhu atau sengkala.   Bebendhu ini adalah buah perbuatan yang mendatangkan penderitaan.  Sementara sengkala adalah kesulitan hidup, yang tentunya juga mendatangkan penderitaan.  Bebendhu maupun sengkala ini bisa datang saat manusia hidup di bumi ini, maupun kelak ketika manusia memasuki kehidupan pasca “kematian”.

Namun, Layang Djojobojo (Layang Nata) itu juga menegaskan bahwa karakter dasar Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun.  Tidak ada ungkapan bahwa Tuhan adalah Maha Penghukum.  Juga tidak ada ungkapan bahwa Tuhan merupakan Keberadaan yang bisa murka dan benci kepada manusia.

Maka, kita perlu mengembangkan pengertian yang tepat mengenai adanya bebendhu dan sengkala bagi manusia, dikaitkan dengan watak dasar Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun.

Sesungguhnya, bebendhu atau sengkala memang bukan manifestasi dari karakter Tuhan sebagai penghukum, pemurka dan pembenci.  Tapi itu adalah bagian dari hukum kesemestaan yang di dalamnya berisi kausalitas.  Bahwa setiap tindakan memiliki resiko atau konsekuensi logis tersendiri.

Manusia dianugerahi free will, maka dengan itu, manusia bebas melakukan tindakan apapun sesuai kapasitas yang dimilikinya.  Namun manusia tidak bisa membebaskan diri dari hukum semesta yang menaunginya.  Jika seseorang melakukan sebuah tindakan, ia mau tak mau pasti menanggung resiko logis dari tindakan tersebut.

Jika seseorang teledor di jalan raya, ia bisa mengalami kecelakaan lalu lintas.  Dan dengan kecelakaan itu ia bisa menderita luka ringan, luka berat bahkan meninggal dunia.  Apa yang terjadi pada orang yang teledor ini bukanlah hukuman dari Tuhan.  Tapi itu adalah konsekuensi logis dari keteledorannya di tempat yang penuh resiko.

Pada situasi yang lebih kompleks, setiap pribadi memiliki cetak biru masing-masing.  Saat yang sama, setiap pribadi juga senantiasa mendapatkan pesan Tuhan yang muncul dari pusat hatinya.  Nah, saat seseorang hidup tidak selaras dengan cetak birunya, sekaligus mengabaikan pesan-pesan Tuhan itu, tentu saja ada resiko logis yang niscaya ditanggung.  Kehidupan yang penuh kesulitan dan penderitaan, adalah keadaan yang pasti dialami.

Demikian juga ketika seseorang yang hendak memasuki gerbang kematian justru tetap berada dalam ketidaksadaran, resiko logis itu pasti ditanggung ketika sang sukma sudah berpisah dari raganya.  Sang sukma akan berada pada keadaan jiwa yang penuh derita, karena tertahan di atmosfer bumi dan tidak bisa mencapai dimensi atau terminal penantian yang menyamankan.

Nah, keadaan yang serba sulit dan membawa penderitaan seperti inilah sejatinya yang bisa dinyatakan sebagai neraka.  Dan neraka dalam pengertian demikian, bisa dialami oleh seseorang baik selama hidup di bumi ini maupun ketika sukmanya telah berpisah dari raganya.  Dan keadaan seperti ini adalah buah dari perbuatan manusia yang memang memiliki free will.  Itu bukan bentuk penghukuman dari Tuhan, melainkan hanya resiko logis dari pilihan manusia sendiri.

Sebaliknya, tindakan-tindakan yang serba tepat, yang selaras dengan cetak biru kehidupan dan pesan-pesan Tuhan yang muncul dari pusat hati, niscaya mendatangkan kehidupan yang membahagiakan.  Demikian pula jika kita berbicara tentang kehidupan setelah sukma berpisah dengan raga.  Jika seseorang memang melepaskan nafas terakhirnya dengan jiwa memenuhi standar kejernihan dan kesadaran minimal, adalah kepastian bahwa sukmanya tidak akan tertahan di dimensi yang tidak menyamankan.  Setidaknya ia akan langsung berada di terminal penantian yang menyamankan sebelum memasuki kehidupan baru dengan raga baru.  Dan inilah yang bisa dinyatakan sebagai surga.

Jadi, neraka sebagai tempat penghukuman Tuhan yang berisi siksaan yang menyakitkan, atau surga sebagai tempat Tuhan memberikan ganjaran berupa kesenangan-kesenangan ragawi, tidaklah ada.  Neraka yang sesungguhnya adalah keadaan dukacita, yang menyesakkan jiwa, sebagai buah perbuatan yang keliru, tidak selaras dengan cetak biru dan pesan-pesan Tuhan dari pusat hati.  Sementara surga yang sesungguhnya adalah keadaan-keadaan penuh kenyamanan dan merupakan konsekuensi logis dari perbuatan manusia yang selaras dengan cetak biru dan pesan-pesan Tuhan dari pusat hatinya.

Tentu saja, surga dan neraka yang demikian tidaklah langgeng.  Itu hanya keadaan temporer yang sewaktu-waktu berubah.  Neraka yang dialami selama manusia masih hidup di bumi dan memiliki raga, bisa dilampaui ketika manusia mengubah perilakunya dan memasuki naungan Kasih Murni dari Tuhan.  Sementara surga berupa kenyamanan hidup di bumi juga bisa begitu saja sirna ketika manusia kehilangan kesadaran dan kewaspadaannya.   Kemudian, neraka yang dialami sukma setelah berpisah dari raga, bisa usai jika sukma tersebut mendapatkan pertolongan dari manusia berkesadaran dan disempurnakan hingga terangkat ke terminal penantian terdekat yang menyamankan.  Dan surga yang dinikmati sang sukma yang telah berpisah dari raga juga bukan perhentian pamungkas.  Sukma tersebut masih bisa terus berjalan dan menjalani kehidupan baru dengan tingkat kesukacitaan yang lebih utuh dan sempurna.

Related Posts

There is no other posts in this category.

3 Responses to "APAKAH SURGA DAN NERAKA BENAR-BENAR ADA?"

  1. jadi jangan bilang surga atau neraka tidak ada...

    Demikian juga Gusti, akan memberikan balasan, terhadap apa yang kamu lakukan di bumi ini, juga dijagad langgeng kelak....

    ReplyDelete



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan