RENUNGAN TENTANG PERJALANAN SPIRITUAL





Saat menulis artikel ini, usia saya telah 39 tahun.  Beberapa bulan ke depan, saya akan berusia 40 tahun.  Sebuah usia yang cukup panjang untuk mengerti pahit manisnya kehidupan.  Kenyataannya, selama rentang waktu itu saya memang telah banyak belajar tentang arti kehidupan.  Entah itu melalui buku-buku yang memuat pikiran dan renungan para filosof maupun mistikus.  Atau melalui dialog langsung dengan mereka yang saya anggap sebagai sesepuh dan orang bijak.  Juga melalui pengalaman hidup pribadi, termasuk melalui olah pikir dan olah batin yang membawa kesadaran baru. 

Namun, sejujurnya saya malah menjadi geli sendiri.  Realitasnya adalah, semakin saya banyak belajar, semakin saya sadar bahwa teramat sedikit yang saya mengerti tentang hidup ini.  Alih-alih makin menguasai samudera pengetahuan, saya kian tersadarkan bahwa samudera pengetahuan tersebut luas membentang tanpa batasan, dan pengetahuan saya saat ini, tak lebih dari setetes air dari samudera itu.  Di atas langit ada langit, demikian orang-orang bijak mengingatkan.  Demikianlah, dalam hal ngangsu kaweruh atau pembelajaran, begitu satu tataran keilmuan di dapat, kita langsung sadar, ada lapis tak terbatas di atas tataran itu yang kita belum mengerti.

Dahaga akan kaweruh atau pengetahuan, menjadi tak pernah pudar bahkan terus menguat seiring makin banyak saya belajar.  Sesepuh Jawa telah berbicara tentang metode meraih pengetahuan: ngelmu kelakone kanti laku.  Pengetahuan, kebijaksanaan, adalah buah dari tindakan, dari mengalami hidup.  Setiap momen kehidupan, adalah kitab teles, atau teks pembelajaran hidup dan menawarkan kesadaran-kesadaran baru bagi siapapun yang mau merenung dan mengambil pembelajaran.  Maka, sayapun makin bersemangat untuk nglakoni hidup, mencoba berbagai kemungkinan dalam hidup, menjalankan berbagai percobaan untuk menguji kebenaran konsep-konsep yang ada dalam benak saya.  Rangkaian dari semua itulah yang kemudian saya sebut sebagai perjalanan spiritual. 

Suka dan duka, manis ataupun getirnya kehidupan, akhirnya saya sadari sebagai kesempatan untuk mengalami hidup secara utuh, dan itu membuat wawasan terhadap hidup menjadi lebih akurat.  Memasuki wilayah kehidupan yang dinyatakan orang sebagai wilayah gelap, saya sadari sama pentingnya dengan memasuki  kehidupan penuh cahaya.  Kedua sisi hidup itulah yang membuat kita bisa mengenal hidup dan diri kita apa adanya.  Menjadi spiritualis, pada akhirnya saya pahami tidak identik dengan menjadi orang baik atau orang suci dalam pandangan banyak orang.  Tapi, ia adalah proses menjadi orang yang sadar dalam setiap kondisi kehidupan.  Seorang spiritualis adalah mereka yang berkesadaran, mereka yang bangun dan awas, dan bertindak berdasarkan kesadaran tersebut.  Maka, yang membedakan seorang spiritualis dengan bukan spiritualis, bukanlah pada tindakan praktisnya, tapi pada apa dasar dan sifat dari tindakan praktis tersebut. 

Perjalanan spiritual yang sesungguhnya, adalah meniti setiap detik kehidupan dan terus menerus menumbuhkan kesadaran sehingga kita mengerti akan kasunyatan, kenyataan, tentang diri kita sendiri maupun hidup yang melingkupi kita.  Ia adalah proses panjang untuk keluar dari perangkap ilusi yang salah satu bentuknya adalah  konsep dan keyakinan yang memenuhi pikiran kita.  Gambarannya begini: jika di hadapan kita ada setangkai mawar, kita punya dua pilihan sikap.  Sikap pertama, kita mempersepsi mawar itu berdasarkan informasi yang disampaikan orang lain kepada kita – yang kemudian menjadi sistem keyakinan kita, tanpa mencoba masuk ke dalam kenyataan tentang mawar itu sendiri.  Kita sibuk dengan konsep dan iman yang telah kita punya dan malah lupa menikmati mawar itu apa adanya.  Sikap kedua, berkeksperimen dengan mawar itu, melihatnya langsung, menyentuhnya, mencium harumnya, sehingga kita memahami mawar itu apa adanya berdasarkan pengalaman kita sendiri.  Dan sebagai hasilnya, kita sadar akan mawar itu!  Menjadi spiritualis, adalah mengembangkan sikap kedua: kita berani bereksperimen dalam dan tentang hidup, sehingga memahami hidup apa adanya: kita menjadi manusia berkesadaran!

Orientasi Perjalanan Spiritual


Dalam satu pengelanaan, saya berkesempatan berkunjung ke Pura Mangening, Tampaksiring Bali, bersama dua sederek saya yang tinggal di Bali, Mas Toni dan Bli Kadek Nick.   Pura ini adalah tempat yang indah, dengan lekak lekuk pura yang mengikuti kontur bukit, dihiasi pepohonan yang rimbun, serta hamparan kolam dan air mancur di berbagai sudut. Secara historis, diceritakan bahwa salah satu yang turut membangun pura ini adalah Empu Kuturan, saudara dari Empu Baradah.  Keduanya adalah Empu besar pada abad 11.  Cerita lain, pura ini juga merupakan petilasan dari Ki Ajar Sidalaku, salah satu guru dari Ranggawarsita, pujangga Kraton Surakarta yang sumare di Cawas, Klaten – yang makamnya pernah juga saya sowani.  Setelah kungkum di salah satu kolam di kawasan pura itu, saya duduk di atas satu batu besar, bermeditasi, memasuki keheningan. 

Dalam suasana hening dan damai, menyeruak satu suara tanpa rupa yang mengarahkan saya untuk mengerti tentang sejatining Urip.  Saya coba mencerna semua itu, dan membiarkan arahan itu mengkristal menjadi satu tekad.  Ya, kita memang perlu punya sebuah tekad agar bisa mengerti kesejatian berbagai hal tersebut agar hidup yang kita jalani menjadi berarti.  Apalah artinya hidup yang panjang, jika itu semua berlalu hanya untuk makan, minum, bersenggama, tanpa tumbuh kesadaran akan arti dari hidup itu sendiri.  Sejauh saya mengerti, tanggung jawab menjadi manusia, dan ini yang kemudian membedakan kita dengan hewan, adalah mencapai PENCERAHAN, KESADARAN.

Gusti, Pribadi, Nusantara, Urip, adalah rangkaian kata perlu dimengerti secara mendalam karena itu yang menjadi dasar tindakan yang bener dan pener sebagai manusia. 

Gusti, dan Pribadi, adalah dua kata yang bisa dimengerti jika keduanya ditempatkan sebagai satu kesatuan atau sebagai Realitas yang saling berhubungan.  Kita hanya bisa mengerti Gusti melalui Pribadi, dan kita bisa mengerti Pribadi secara tepat jika kita tahu hubungannya dengan Gusti. 

Sejauh pengalaman saya, mengerti tentang Gusti hanya bisa digapai melalui olah batin, dengan masuk ke dalam Pribadi kita sendiri.  Sesepuh  Jawa bilang Gusti dumununge ing Awake Dewe (Pribadi).  Dengan menyadari nafas atau aliran udara yang keluar masuk tubuh kita, kita bisa sampai pada satu titik kesadaran: ada satu noktah yang menjadi pangkal, sebab utama, ataupun intisari dari Pribadi yang Hidup.  Pribadi kita, tak lain adalah manifestasi dari satu Energi Paling Murni yang menjadi intisari dari hidup ini.  Perenungan yang dilandaskan pada olah batin kita sendiri, akan membawa kita pada kesadaran, bahwa Energi Paling Murni ini adalah apa yang dipahami oleh para mistikus atau spiritualis sebagai Tuhan, Yang Misteri, dan sebutan lain – yang Realitasnya adalah Kekosongan (Suwung) yang Menghidupkan, Menggerakkan.  Dalam fisika kuantum, dinyatakan bahwa sejatinya materi dan energi tak terpisahkan: ketika materi diurai, akan sampai pada elemen berupa energi yang keberadaannya seperti tiada, disebut tiada tapi ada.  Materi adalah manifestasi dari Energi itu.  Dan energi itulah yang disebut Suwung: Realitas yang bisa disebutkan tetapi tak bisa dinyatakan sosok partikularnya karena memang hanya bisa dipahami sebagai Keberadaan Yang Utuh, Holistik, Serba Meliputi.

Gusti, adalah manifestasi pertama dan terhalus di dalam raga kita masing-masing dari Keberadaan Yang Utuh, Holistik dan Serba Meliputi itu.  Karena itulah, disebutkan bahwa setiap manusia punya Gusti masing-masing.  Yang Misteri mengejawantah dalam “sosok” Gusti yang bisa dikenali oleh setiap Pribadi.  Pribadi itu sendiri, merupakan pengejawantahan lebih lanjut dan kompleks dari Gusti.  Jika kita menyadari Pribadi lapis demi lapis, melampaui tirai demi tirai, sampailah kita pada Gusti, dan muncullah kesadaran akan Realitas Tak Terjelaskan di balik itu semua.

Sang Pribadi, sebagai pengejawantahan dari Gusti, atau Realitas yang Abadi itu, sejauh saya mengerti, telah mengalami perjalanan yang panjang, dari satu rupa dan bentuk ke rupa dan bentuk lainnya. Sang Pribadi, telah melampaui jaman demi jaman, hingga pada satu titik sekarang menjadi sosok yang dikenali dengan nama dan atribut tertentu.  Pada kasus saya, Sang Pribadi inilah – setelah dibungkus atau memanifestasi lebih jauh dalam sosok dengan badan ragawi - yang dikenal orang sebagai Setyo Hajar Dewantoro, berusia 39 tahun, dengan perwatakan dan sifat-sifat khusus yang dibentuk melalui formulasi yang rumit – melibatkan pengalaman hidup di masa kini dan di masa lalu.

Lalu, hendak kemanakah Sang Pribadi ini melangkah dan menuju?  Dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya, Sang Pribadi sesungguhnya telah banyak belajar, termasuk tentang kehidupan itu sendiri dan tujuannya.  Sayangnya, apa yang sudah dipelajari itu – sebagiannya tersandikan dalam DNA kita – tidak sepenuhnya kita sadari.  Sehingga kita seperti selalu mulai dari O.  Lewat olah bathin, kita sebetulnya sedang mengurai kode DNA kita dan membangkitkan kaweruh yang terpendam, sembari mengakses sumber dari itu semua: Pusat Kesadaran dan Kreativitas, di dalam lapis terdalam diri pribadi kita.  Dengan cara demikian, kita tidak mulai dari O: kita langsung berada pada satu tataran dengan potensi untuk terus menaik.

Sang Pribadi bergerak menuju Kasampurnan, satu Keadaan Murni, yang disebut para mistikus dan spiritualis sebagai kembali ke Sangkan Paraning Dumadi.  Inilah keadaan kita unsur-unsur pembentuk raga kembali ke asalnya, dan Sang Pribadi bisa memurnikan diri hingga pada titik melebur dengan asal dan tujuannya.  Kehidupan di muka bumi, atau Urip, adalah proses natural yang harus kita alami manakala kita memang belum sampai pada Keadaan Murni tersebut.  Urip, dengan segenap dinamikanya, adalah mekanisme yang menuntun kita pada Kesadaran dan Kemurnian, hingga kita bisa pulang.

Demikianlah, bisa diurai kembali secara lebih ringkas: manusia, adalah manifestasi dari Yang Misteri.  Ia disebut sebagai jagad alit, karena merupakan miniatur dari jagad ageng, yaitu Semesta yang menjadi manifestasi tanpa batas dari Sang Misteri itu.  Hidup manusia adalah sebuah proses untuk bisa kembali: meleburkan diri dengan asal muasal kita, kembali pada Kemurnian.  Dalam tradisi Jawa, inilah yang disebut sebagai Kamuksan, tidak dalam pengertian sekadar langsung terurainya raga, tapi juga keadaan ketika Sang Pribadi menjadi Murni: telah mengalami transformasi sehingga mencerminkan sifat Gusti sepenuhnya.

Arti Hidup Ini
Saat kita keluar dari Gua Garba di dalam tubuh Ibu kita, dan mulai meniti jalan kehidupan di muka bumi, saat itulah kita memulai sekolah kehidupan sesuai tataran masing-masing.  Tingkat kedewasaan dan kesadaran dari setiap orang niscaya berbeda, sesuai dengan perjalanan Pribadi bersangkutan yang disandikan oleh kode DNA masing-masing orang.  Maka, ada yang raganya muda tapi jiwanya terkesan sepuh, demikian sebaliknya.  Ada yang mendekati kemurnian, ada yang masih demikian kasar terbalut dan terlekati oleh berbagai unsur ragawi (yang mengejawantah dalam bentuk nafsu, hasrat, rahsaning karep).

Kode DNA setiap orang, bisa dimengerti sebagai Cetak Biru Sang Pribadi dalam kehidupannya di muka bumi ini.  Inilah yang sering disebut sebagai Takdir Terbaik yang perlu dijalani oleh setiap orang.  Tapi, kita ternyata punya kesempatan untuk berjalan sesuai Cetak Biru ini, dan inilah yang disebut sebagai Hidup Berkesadaran, sekaligus untuk mengingkarinya – dan kita menjalani Hidup Tanpa Kesadaran.  Sejauh saya amati, sedikit sekali manusia yang sadar akan Cetak Biru ini.  Tentu saja, pangkal dari ketidaksadaran ini adalah ketika manusia tidak sadar akan Sejatinya Pribadi, termasuk Sejatinya Gusti yang dumunung di badan masing-masing.  Ketidaksadaran ini bisa jadi berakar pada pengabaian terhadap dimensi lain dari hidup kita di luar keseharian yang kita jalani, bisa juga berakar pada belengu konsep, dogma, iman, yang malah mengaburkan kasunyatan.

Setiap orang, sesuai sandi DNA masing-masing, memiliki tugas spesifik dalam rangka menjalankan missi besarnya: hamemayu hayuning bawana.  Memahami tugas spesifik ini, bisa dilakukan mulai dengan mengerti apa talenta kita.  Salah satu cara menjalani hidup terbaik adalah memberi kegunaan atau manfaat pada kehidupan mempergunakan talenta yang kita punya.  Contoh sederhana, salah satu talenta saya adalah menulis: maka, saya memproduksi berbagai tulisan yang berorientasi meningkatkan mutu kehidupan manusia.  Ini cara saya untuk berkontribusi terhadap kehidupan sesuai talenta saya.

Jika Anda punya talenta sebagai leader, sepagai inisiator perubahan, tentunya itu layak dikembangkan.  Apapun talenta Anda, itu perlu disadari dan jadi cara untuk memberikan sumbangsih pada kehidupan.

Lebih lanjut, hidup sebagai satu sekolah atau padepokan sesungguhnya yang berfungsi membawa kita pada satu kemajuan spiritual, perlu dijalani dengan jiwa seorang pembelajar.  Sesepuh kita menyatakan soal ngelmu sastrajendra hayuningrat:  ini adalah satu metode untuk belajar dari jagad gumelar termasuk dengan menyelami diri pribadi sebagai miniatur dari jagad gumelar itu, hingga kita bisa ngaweruhi kesejatian.  Pada satu titik, ketika seseorang sudah sampai pada kesadaran akan kasunyatan ini, ia akan merasa penuh, damai di dalam dirinya sendiri, dan pada titik itulah benih cinta kasih akan tumbuh mekar.  Orang-orang yang seperti inilah yang kemudian bisa menjadi pangruwating diyu (peruwat, penakluk keangkaramurkaan).

Dalam konteks sekolah kehidupan ini, sudah kelas berapakah saya?  He, he, he, he...sejujurnya, saya sedang mengevaluasi perjalanan pribadi saya.  Saya coba kilas balik ke masa silam, melihat apa yang sudah saya lakukan dan alami.  Saya juga menengok masa kini: melihat secara apa adanya apa yang terjadi pada diri pribadi saya, hidup saya, termasuk apa yang saya rasakan.  Bertolak dari itu semua, saya bisa memahami pencapaian saya: pada pelajaran tertentu saya sudah ada pada tingkat lumayan tinggi, pada pelajaran lain saya tak lebih sebagai pemula.  Secara keseluruhan, saya layak ditempatkan bersama dengan para pembelajar pemula, kalau dianalogikan dengan strata dalam dunia pendidikan formal kita, ya setara dengan anak-anak TK!  Serius.  Saya sadar, ada banyak orang dengan tingkat kesadaran dan kebijaksanaan jauh lebih tinggi ketimbang saya.  Dan dari merekalah saya belajar.  Sebagaimana saya juga belajar dari semua orang yang memiliki kebijaksanaan masing-masing sebagai buah pergulatan hidup yang unik.

Lebih jauh tentang arti hidup, saya ingin membahas pengertian saya tentang Sampurnaning Urip.  Sampurnaning Urip saya mengerti sebagai titik pencapaian ketika manusia telah sadar secara utuh akan realitas pribadi dan hidup yang melingkupi pribadi, sembari tuntas menjalankan tugas sesuai cetak birunya.  Dalam satu kontemplasi, saya menganalogikan setiap manusia sebagai pelukis yang telah dibekali kuas dan cat, lalu di hadapannya dihamparkan kanvas putih.  Misi kita bisa dianggap tuntas, jika kita sudah membuat lukisan sesuai dengan cetak biru atau rancangan yang ada di dalam batin kita masing-masing.  Jenis, corak, bahka lebar kanvas dari masing-masing orang pastilah akan berbeda.  Maka, sikap bijak adalah menyadari kriteria atau spesifikasi dari lukisan yang harus kita buat dan berupaya menuntaskan itu.  Mencela oran lain karena lukisannya tidak seindah atau secanggih lukisan kita, adalah sikap bodoh – apalagi jika kita sendiri tak mengerti proporsi untuk pribadi kita sendiri.

Pentingnya Latihan Spiritual
Kenyataan hidup menunjukkan, ada orang-orang yang kita nilai telah mengalami Pencerahan, sebagaimana ada orang-orang yang kita sebut tersesat atau tenggelam dalam ilusi berkepanjangan.  Dalam pewayangan, ada sosok yang menggambarkan pribadi tercerahkan, seperti Rama dan Kresna yang sama-sama merupakan titisan Betara Wisnu, lalu Puntadewa (sosok tersuci dari Pandawa Lima yang disimbolkan berdarah putih), Arjuna (yang mencapai pencerahan saat bertapa sebagai Begawan Mintaraga), juga Bima (yang mencapai kesejatian setelah bertemu Dewa Ruci).  Sebaliknya, kita mengenal sosok Rahwana dan Duryudana simbol manusia yang mengedepankan angkara murka.

Entah dalam dunia nyata atau pewayangan, setiap pencerahan digapai ketika seseorang menjalani laku tertentu.  Bertapa, adalah kata umum yang menggambarkan proses yang dijalani oleh setiap orang yang hendak mencapai pencerahan.  Khazanah spiritualitas Jawa menyebutkan berbagai jenis tapa, mulai dari tapa brata, tapa kungkum, tapa ngeli, dan lainnya.  Satu hal yang esensial tentang tapa, bahwa ia merupakan satu proses khusus yang dijalani untuk masuk ke dalam keheningan dan dari situ, kita bertemu Gusti masing-masing yang lalu membimbing kita untuk mengerti kasunyatan.

Tapa sering digambarkan sebagai proses mengasingkan diri dari riuhnya kehidupan dunia, entah ke gua tertentu, hutan tertentu, atau di padepokan tertentu.  Itu tidak keliru, karena kenyataannya, menarik raga dari kehidupan dunia membuat kita lebih mudah masuk pada kondisi hening dan wening.  Dan sebaiknyalah, setiap orang menyempatkan diri untuk melakukan tapa jenis ini: membawa raga ke tempat berenergi murni, yang sunyi, lalu melakukan kontemplasi yang serius tanpa diganggu hal-hal lain.

Tapi, tapa tak hanya bisa dilakukan dengan mengasingkan diri seperti itu.  Ia bisa dilakukan di rumah, di manapun, tanpa menarik diri dari keseharian.  Ia bisa dilakukan dengan melakukan ritual khusus pada periode tertentu: dan pada momen ini kita bermeditasi, masuk ke dalam hening, hingga pencerahan hadir.  Bisa juga, kita menjalankan tapa ngeli: mengalir bersama aliran hidup dan mencoba sadar akan semua yang dialami.  Entah apapun yang kita lakukan, tapi kita tetap sadar dan terhubung dengan Gusti atau Pusat Kesadaran Tertinggi di dalam raga kita masing-masing.

Apapun pilihan caranya, hal terpenting adalah kita dengan sadar melatih diri, berkultivasi.  Karena itulah yang menjadi investasi kita agar bisa memetik pencerahan.  Saya pribadi, menjalankan semua cara yang mungkin saya lakukan.  Ada kalanya saya mengasingkan diri dengan berkontemplasi di tempat-tempat yang sunyi.  Ada kalanya saya meluangkan waktu khusus untuk bermeditasi.  Dan di lain waktu, saya cuma mencoba sadar akan semua dinamika hidup dan membiarkan kesadaran saya tumbuh seiring waktu yang saya lewati.

Dinamika Jiwa
Wayang, adalah simbol perwatakan manusia yang ada di muka bumi.  Saat yang sama, wayang juga menggambarkan dinamika jiwa setiap manusia.  Di dalam pribadi kita ini, sejatinya ada semua gambaran dari wayang sekotak yang dimainkan para dalang.  Pribadi kita adalah jagad yang merangkum keberadaan Rama sekaligus Rahwana, Anoman sekaligus Sarpakenaka, Arjuna sekaligus Duryudana.  Sebagaimana hidup, pribadi kita memiliki sisi terang sekaligus gelap.  Itulah kenyataan diri apa adanya.

Pengalaman saya pribadi menunjukkan bahwa penting bagi kita untuk menerima diri apa adanya, dan bukannya mengidealisasi diri yang malah tidak sesuai kenyataan.  Terkait hal ini, terima saja jika pada suatu saat, di dalam jiwa kita muncul citra Rahwana.  Dinamika tersebut cukup diikuti, dipelajari, diamati, sembari tetap sadar akan segenap konsekuensinya.  Jika gejolak Rahwana tersebut kita biarkan mengejawantah dalam kehidupan nyata, dan lalu kita melakukan pelanggaran hukum, tentu saja kita harus siap dengan konsekuensinya.  Tapi, jika gejolak Rahwana tersebut bisa kita kelola dan kita atur supaya mengejawantah dalam batasan yang aman (dari unsur merugikan pihak lain dan delik hukum), itu lebih baik bagi kita.

Pada titik ini, saya agak berbeda dengan para moralis yang selalu menganjurkan kita berbuat baik dan menghindari keburukan.  Bagi saya, konsep baik dan buruk itu subyektivitas masing-masing pribadi.  Tak ada baik dan buruk mutlak dalam satu tindakan.  Adalah penting bagi kita untuk melampaui konsep baik dan buruk, tapi lebih berpegang pada kenyataan yaitu hukum sebab akibat dari tindakan.  Sebuah tindakan, tanpa kita hakimi sebagai baik dan buruk, kita lakukan atau kita tinggalkan semata-mata berdasarkan kesadaran akan konsekuensi dari tindakan tersebut.  Jika kita menyadari sebuah tindakan yang menurut persepsi umum buruk, tetapi bagi kita itu memang perlu dilakukan karena kita perlu belajar darinya, dengan konsekuensi yang dapat kita tanggung, ya lakukan saja tanpa perlu merasa berdosa.

Dalam kesadaran saya, ada kalanya kita perlu memasuki sisi hidup yang menurut persepsi umum sebagai kehidupan yang gelap.  Karena itu adalah jalan kita menyadari sifat pribadi kita maupun sifat hidup itu sendiri secara apa adanya.  Yang terpenting adalah semua dijalani dengan sadar, termasuk sadar akan konsekuensi dari apa yang kita pilih.  Dan sikap bijak adalah melakukan tindakan yang konsekuensinya masih dalam batas yang bisa kita tanggung.


Tentang Nusantara


Bukan sebuah kebetulan jika saya lahir dan hidup di belahan bumi yang disebut Nusantara.  Ini adalah bagian dari jalan darma dan lingkaran karma yang harus saya jalani.  Meditasi yang saya jalani di Pura Mangening Tampaksiring, menyadarkan saya bahwa Nusantara adalah satu konsep spiritual tentang bangsa dan peradaban yang harus dimengerti secara baik.  Salah satu ciri khas Nusantara adalah banyaknya tempat-tempat berenergi murni, dalam bentuk candi, petilasan, pura, gua, kabuyutan, maupun hutan dan gunung.  Ada ribuan tempat berenergi murni yang menyebar di berbagai pelosok Nusantara.

Kenyataan ini menggambarkan satu hal: Nusantara adalah tanah yang diwariskan kepada kita oleh manusia-manusia berkesadaran spiritual tinggi.  Kesadaran spiritua yang tinggi itulah yang disandikan oleh berbagai candi, pura, kabuyutan dan sejenisnya.  Dan yang diwariskan juga bukan sekadar tanah itu, tetapi kebudayaan yang merupakan buah interaksi dari para leluhur di masa lalu dengan tanah (baca: Ibu Pertiwi) di mana mereka hidup.  Esensi dari kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur ini adalah harmoni, keselarasan, antara manusia sebagai jagad alit dengan semesta sebagai jagad ageng.  Menjadi manusia Nusantara berarti menjadi manusia yang menghormati tanah yang dipijak, menghormati seluruh unsur jagad, dalam bentuk hutan, sungai, gunung, termasuk semua titah urip yang ada di dalamnya, yang katon maupun tidak katon oleh mata lahiriah.

Terkait dengan ini, dalam satu meditasi di satu tempuran sungai di Ubud yang merupakan jejak atau petilasan Resi Markandeya, saya mendapatkan kesadaran, bahwa Bali pada saat ini, adalah benteng kebudayaan Nusantara.  Apa yang kita bisa lihat di Bali pada saat ini, adalah gambaran dari Jawa di masa silam: itulah kebudayaan yang menggambarkan harmoni manusia dengan semestanya, yang dimanifestasikan dalam berbagai ritual, upacara adat, arsitektur rumah dan pura, seni lukis dan patung, tari-tarian dan musik.  Hidup, sebagaimana dicapai oleh para leluhur Nusantara di masa lalu, adalah perayaan keharmonisan dengan semesta.  Tentu saja, Bali sendiri tengah menghadapi dinamikanya sendiri, sehingga tak semua ideal kebudayaannya dapat dijumpai dalam keseharian.  Tetapi dibandingkan berbagai kawasan lain di Nusantara, Bali adalah gambaran yang paling ideal dari apa yang disebut dengan Nusantara.  Bali adalah benteng kebudayaan Nusantara yang harus dibela dengan cara apapun yang menunjukkan kehormatan kita sebagai satu bangsa!

Sudah sepatutnya, kita yang hidup di Jawa dan tempat-tempat lain di Nusantara, menyadari realitas ini dan berupaya agar spirit Nusantara tetap hidup dan mengejawantah (kembali) dalam tata kehidupan sehari-hari. 

Hong wilaheng sekaring bawono langgeng!

















Related Posts

There is no other posts in this category.

2 Responses to "RENUNGAN TENTANG PERJALANAN SPIRITUAL"

  1. Terimakasih atas sumbangsih tulisannya, saya bisa mendapatkan pengetahuan dengan membaca gratis tulisan ini.. Lebih banyak menulis lagi dong...

    ReplyDelete
  2. I want you to thank for your time of this wonderful read!!! I definitely enjoy every little bit of it and I have you bookmarked to check out new stuff of your blog a must read blog. a course in miracles teacher

    ReplyDelete



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan