PERJALANAN KE TIMUR: MENITI JALAN MENJADI SATRIO PINANDHITO (3)



Jika ada yang sangat saya rindukan saat ini, itu adalah kerinduan untuk memiliki waktu tenang agar bisa menulis dengan penghayatan penuh. Belakangan, saya seperti kehabisan energi untuk menulis karena energi itu terkuras untuk sebuah pekerjaan di ranah politik yang justru menjadi mandat dari tulisan-tulisan terakhir di blog ini.

Jadi, jika ada pembaca yang merindukan tulisan saya, mohon maaf saya baru bisa hadir kembali. Sungguh, saya baru menulis lagi bukan karena lebih memilih berkiprah di politik dan melupakan tugas sebagai seorang pandhito atau intelektual. Kemarin-kemarin saya belum menulis karena saya belum sanggup menulis: saya benar-benar dalam situasi berat, layaknya serdadu yang tengah berada di kancah peperangan dalam persimpangan hidup atau mati.

Puji syukur kepada Gusti Ingkang Murba Wasesa, saya selamat, dan telah mencapai kondisi yang relatif tenang sehingga bisa menulis kembali. Kini, ijinkan saya berbagi tentang pengalaman dan kontemplasi saya setelah melakukan perjalanan spiritual (tirta yatra) ke Sendang Lanji dan Kahyangan Dlepih.  

Sendang Lanji Sendang Lanji berada di Desa Selogono Kelurahan Girimargo Kecamatan Miri Kabupaten Sragen. Tempatnya, secara fisik, sangat sederhana. Karena hanya berupa sendang kecil yang sudah dibatasi dinding semen, dan sering menjadi tempat mandi para penduduk. Namun, dari sisi energi, tempat ini punya pesona sendiri. Saya berkunjung ke sendang ini ketika hari telah memasuki malam, bersama Mas Heru Dipastraya. Sebelumnya, kami sempat mampir ke Gunung Kemukus, sowan dan meditasi di petilasan Pangeran Jaka Samudra (Catatan: Gunung Kemukus, kini telah "berkembang" sedemikian rupa menjadi sebuah tempat yang tidak lazim untuk ukuran tempat tirta yatra atau perjalanan spiritual. Di tempat ini, tumbuh berkembang industri sex yang dikait-kaitkan dengan mitos dengan cara meraih kejayaan berdasarkan wangsit Pangeran Jaka Samudra. Saya belum ingin membahas lebih lanjut soal ini, jadi saya lewat saja, dan langsung membahas pengalaman saya di Sendang Lanji).

Di Sendang Lanji, saya dan Mas Heru Dipastraya, pertama-tama, secara bergantian mandi mengguyur sekujur tubuh dengan air dari sendang itu. Tentunya, sebelum itu dilakukan, ada komunikasi bathin yang dilakukan, meminta ijin kepada yang mbahurekso di sendang itu, dan meniatkan mandi di sendang itu sebagai sebuah prosesi untuk pencerahan jiwa. Selesai mandi, kami melakukan meditasi di tanah lapang di dekat sendang. Dan teknik yang dilakukan adalah meditasi menghadap 8 penjuru mata angin (padmasana), sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Ratu Shima. Mengapa demikian? Karena Sendang Lanji tak lain tak bukan adalah salah satu dari petilasan Ratu Shima di bagian Selatan Pulau Jawa. Di bagian Utara, Ratu Shima memiliki petilasan yang merupakan jejak dari Kerajaan Kalingga di kawasan Jepara. Nah, Sendang Lanji adalah salah satu jejak keberadaan Bumi Shambara, nama lain dari Kerajaan Kalingga yang berkembang di selatan Jawa, dan selanjutnya dipegang oleh Sanjaya keturunan Ratu Shima. Apa motif saya hadir ke Sendang ini? Saya ingin menyerap energi yang tergantung di situ, dengan corak berupa kebijaksanaan dan keadilan yang menjadi sifat dasar dari Ratu Shima sebagai salah satu ratu agung di Tanah Jawa. Saya punya gegayuhan, mengikuti suara dari kedalaman bathin, menjadi seorang pemimpin yang adil, bijaksana, dan bisa mengayomi semua kalangan.

Karena itu, sudah sepatutnya, saya menengok kepada leluhur yang terkenal dalam sejarah memiliki keteladanan yang mengagumkan dalam hal ini. Dan Mas Dipa yang telah berkali-kali ke tempat ini, menyarankan saya melaksanakan meditasi ala Ratu Shima, agar saya terhubung dengan beliau, dan mendapat anugerah disengkuyungi dan dibimbing secara metafisik oleh beliau. Saat kami meditasi, selain pusaran energi yang terasa membesar di lingkungan sekitar kami bermeditasi. Saya juga sempat dikagekan oleh sapi yang tiba-tiba melenguh keras, dan tak henti melenguh selama kami bermeditasi. Tampaknya, binatang tersebut cukup peka untuk merasakan perubahan struktur energi di tempat itu, dan mungkin merasa agak ketakutan atau cemas sehingga melenguh terus.

Secara umum, saya dan Mas Heru Dipastraya merasakan persentuhan dengan fenomena energi yang menggetarkan sekaligus menenangkan jiwa. Dan itu menjadi pertanda baik: beliau-beliau para leluhur yang mbahurekso di Sendang Lanji memberi pangestu kepada kami. Setelah tuntas meditasi di Sendang, kami mengunjungi lingga yoni yang sangat besar tak jauh dari sendang, dengan gambar padmasana atau simbol bunga teratai yang tertatah rapi. Lingga yoni ini diduga kuat sebagai peninggalan dari kerajaan yang dipimpin Ratu Shima. Meditasi kami di tempat tersebut kami lakukan sebagai penghormatan kepada para leluhur yang mewariskannya: dan sejatinya meninggalkan jejak kebudayaan yang perlu untuk digali lebih lanjut agar bisa dipahami dan dihidupkan kembali atau direvitalisasi pada masa kini. Menutup tirtayatra kami di tempat ini, sesuai paugeran yang berlaku di situ, setelah berpamitan dengan Pak Rebo yang menjadi juru kunci di tempat itu, kami berjalan dengan diam tanpa bicara, dan baru saling bicara setelah mencapai jalan besar menuju Solo.

Kahyangan Dlepih
Kahyangan Dlepih adalah salah satu dari 8 tempat pangreh gaib yang melambangkan struktur 8 simpul energi berdasarjab pola Padmasana di Tanah Jawa. Menurut versi Kraton Jogja, Kahyangan Dlepih yang terletak di Wonogiri, merupakan salah satu kraton makhluk halus di Wilayah Barat dengan Sang Hyang Pramoni sebagai penguasanya. Sang Hyang Pramoni dan para wadyabalanya diyakini menjaga Kraton Jogja dari wilayah Barat. Beliau bekerjasama dengan Kyai Sapu Jagad dan Kanjeng Ratu Sekar Kedaton yang bertahta di Kraton Merapi (wilayah Utara), Kanjung Ratu Kidul yang bertahta di Kraton Kidul (wilayah Selatan) dan Sang Hyang Lawu yang bertahta di Timur (Gunung Lawu).

Untuk menjaga relasi dan keserasian antara Kraton Jogja dan 4 kraton makhlus halus tersebut, dilaksanakan berbagai upacara antara lain upacara labuhan atau pemberian sesajian kepada para penguasa di 4 tempat tersebut. Keberadaan Kraton Jogja dan keempat kraton makhluk halus tersebut dianggap sebagai satu kesatuan tak terpisahkan dan membentuk struktur segi lima yang keramat. Diyakini pula bahwa para penguasa dan wadyabala di 4 keraton makhluk halus tersebut sering membantu, mengunjungi dan menghadiri acara kesenian yang dipergelarkan di Kraton Jogja, terutama ketika dipergelarkan tari-tari sakral seperti Bedaya Semang.

Kahyangan Dlebih juga dipandang sebagai tempat Panembahan Senopati menerima wahyu kraton - tepatnya di Watu Payung, satu dari 4 simpul tempat sakral di kawasan Kahyangan Dlepih. Karena itulah, tempat ini menjadi layak dikunjungi oleh siapapun yang ingin meneladani kepemimpinan Panembahan Senopati. Di Watu Payung pula, Panembahan Senopati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sang Hyang Pramoni sendiri, dalam pandangan para waskito yang berkunjung ke situ, memiliki sosok lelaki yang berwibawa dan welas asih, laksana Betara Kresna dalam cerita pewayangan. Ketika saya dan Mas Heru Dipastraya bermeditasi di 4 titik meditasi yang ada di situ, setahap demi setahap relasi dan interaksi dengan pangreh ghaib di situ dan para wadyabalanya menguat.

Saya pribadi, mendapatkan kemantapan yang kian tebal untuk menjalankan dawuh satrio. Walau, di situ, kami mendapatkan pesan agar "waspada ngarep mburi, ndhuwur ngisor, kudu setiti lan kuatono". Beliau-beliau yang hadir di situ, memancarkan tatapan kewelasasihan, sekaligus menyiratkan rasa iba, tapi juga menitipkan pengharapan. Itu semacam pratanda, bahwa lakon saya di dunia politik memang tak akan mudah, penuh onak dan duri. Dan saya sudah saya rasakan sendiri betapa berat untuk menjalaninya. Bersyukur saya masih selamat hingga hari ini, dan misi ini masih bisa dilanjutkan. Demikian catatan sementara yang bisa saya sampaikan. Sampai berjumpa di lain waktu....Rahayu!

Related Posts

There is no other posts in this category.

3 Responses to "PERJALANAN KE TIMUR: MENITI JALAN MENJADI SATRIO PINANDHITO (3)"

  1. seorang cewek bolehkah datang dan bersemedi di tempat seperti itu mas...
    saya pernah ikut rombongan di sumur jolotundo tempatnya eyang nogorojo di suruh mandi dan dzikir di situ tapi saya gak dapat petunjuk apa

    ReplyDelete
  2. Boleh-boleh saja mbak. Soal dapat petunjuk atau tidak tergantung kepekaan. Jika kita belum peka bisa mengajak yang sudah peka sebagai penerjemah.

    ReplyDelete
  3. Matur Nuwun Mas, Nyuwun sewu kulo nderek sinau..

    ReplyDelete



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan