LAKU PRIHATIN



Wruhana raga pun iku dumadine saka alam telu Alam wadag, alam jiwa dan atmaneki Openan kanthi laku Lakune ngeningken batos

[Kini ketahuilah bahwa manusia itu Terdiri dari 3 alam Alam wadah atau jasmani, alam jiwa atau rohani, dan alam atman yang maha suci Ketiganya harus kita pelihara dengan baik Dan caranya hanya dengan mengheningkan hati kita sendiri]

Carane ana telu Tarak Brata, Tapa Brata iku Puja Brata iku laku kabeng katri Telu lakonono Runtut Dimen Tinampa Hyang manon

[Caranya ada tiga Yaitu tarak broto untuk jasmani kurangilah makan, tidur dan mengendalikan panca indera Topo Broto, Rohani kendalikanlah hawa nafsu Dan puja broto melaksanakan konsentrasi sepenuhnya dengan cara meditasi ketiga-tiganya harus dijalankan secara bersama-sama]



Hari-hari ini, saya diingatkan kembali oleh berbagai peristiwa hidup, lalu dikuatkan oleh nasihat guru saya, untuk menggenapi laku prihatin. Saya memang merasa masih ada yang kurang dalam hidup ini, ada satu celah kosong yang kadang memancing kegelisahan. Ternyata, itu karena laku prihatin saya belum genap. Saya harus terus bekerja menyempurnakan watak dan sikap pribadi, agar menjadi menjadi sosok yang lebih hening, bisa menebar berkah bagi sesama, dan karenanya, berhak untuk meraih kebahagiaan hakiki.



Dalam tulisan ini, ijinkan saya berbagi dengan Anda semua tentang laku prihatin. “Prihatin” adalah singkatan dari “perih ing batin” (pedih yang dirasakan oleh batin). Mengapa pedih ? Yah, tentu saja, karena batin (jiwa) ini tidak diujo (dibiarkan semau gue) memuaskan hawa nafsu. Padahal tahu sendiri kan, betapa nikmatnya bila kita sedang keturutan (terpenuhi) hawa nafsunya. Mereka yang menjalankan laku prihatin, benar2 mengendalikan diri agar tidak berlebihan dalam memuaskan hasrat, sekalipun itu sudah merupakan hak kita. Tentu saja, laku prihatin menuntut kita untuk tidak mengumbar hasrat pada sesuatu yang bukan hak kita. Ada sebuah istilah Jawa yang sangat tepat terkait hal ini, “Ngono yo ngono, ning ojo ngono..(Begitu ya begitu, tapi jangan begitu). Kita dituntut untuk tidak berlebihan, tidak melampaui batas kewajaran, apalagi sampai merugikan orang lain.



“Laku prihatin” adalah upaya kita agar badan/jasad ini selalu berkiblat mengikuti kehendak guru sejati/rahsa sejati (kareping rahsa sejati) yang selalu dalam koridor kesucian (berkiblat pada kodrat Tuhan). Sehingga kecenderungan nafsu/hawa/nafs/jiwa/soul kita yang cenderung ingin berbuat negatif nuruti rahsaning karep (nafsu negatif), senaniasa kita belokkan kepada kesucian sang guru sejati dan rahsa sejati. Sehingga menjadi nafsu yang selalu berkeinginan baik (an nafsul mutmainah).



Bagaimana cara kita melakukan laku prihatin? Tembang Gambuh di atas, memberi kita pedoman praktis. Laku prihatin yang hakikatnya adalah upaya pengendalian diri, dilaksanakan melalui Tarak Brata, Tapa Brata, dan Puja Brata. Ketiga langkah ini terkait dengan tiga dimensi diri kita: raga, jiwa dan atma. Diri kita, adalah kesatuan dari tiga lapis keberadaan. Pertama, raga yang mencerminkan 4 unsur bumi: api, air, udara, dan tanah. Kedua, sukma yang mencerminkan diri kita pada tataran yang lebih halus, yang bersinggungan dengan makhluk lain pada dimensi kegaiban (alam kasunyatan). Dan ketiga, Atma atau Sukma Sejati, yang mencerminkan keberadaan Wujud Maha Rahasia di dalam diri kita.

Laku prihatin dilakukan dengan mengolah tiga lapis keberadaan kita tersebut. Tarak brata dilaksanakan melalui upaya mengurangi konsumsi/pemuasan nafsu oleh raga kita: mengurangi makan, tidur, berhubungan seks, dan berbagai kegiatan lainnya yang terkait dengan panca indera kita. Tapa brata dilaksanakan melalui olah bathin, melalui olah pikir, dengan orientasi membuat jiwa kita selalu dalam kebaikan, terjauhkan dari angkara, egosime, dengki, dan ekspresi jiwa negatif lainnya. Dalam bahasa lain, tapa brata adalah upaya kita untuk membuat jiwa dan pikiran kita selalu dalam keadaan positif, penuh syukur, penuh kewelasasihan, punya spirit untuk selalu memberi manfaat pada sesama, dan pada tingkat tertinggi, merasa diri melebur dengan kemanusiaan ini. Sementara puja brata adalah upaya untuk memasuki alam keheningan, menyatukan diri kita dengan Sukma Sejati, merasakan kemanunggalan dengan Atma...dengan Gusti Ingkang Murbeng Gesang.

Sebagai bagian dari laku prihatin, dan ini sangat vital, adalah sikap untuk berbakti kepada orang tua dan leluhur. Berbakti kepada orang tua adalah memuliakan orang tua dan melakukan berbagai upaya agar diri ini mendapatkan kewelasasihan dari orang tua kita. Kita memenuhi apa yang diinginkan atau dibutuhkan orang tua kita semampu kita. Sementara itu, berbakti kepada leluhur adalah sikap memuliakan, menyambung rasa, dan upaya meneruskan amanat dari orang-orang yang menurunkan kita. Leluhur adalah para pendahulu kita yang sudah hidup di alam kehidupan sejati tanpa ragawi. Leluhur dekat adalah orang-orang yang menurunkan kita sebagai generasi penerus kehidupan ini. Apabila ortu sudah meninggal dunia, ortu disebut pula sebagai leluhur paling dekat.

Cara berbakti kepada para leluhur, sebagaimana dituturkan oleh guru saya Kang Sabdolangit, adalah sebagai berikut ;



1. Mendoakan ; Mendoakan di sini saya artikan sebagai upaya penyelarasan, sinergisme, yakni menyambung tali rasa dengan para leluhur yang anda doakan. Jika berdoa diartikan sebagai sarana PERUBAH NASIB para leluhur di alam kehidupan sejati, sejauh yang saya saksikan (tidak sekedar yakin) efeknya sangat tidak signifikan. Sebab nasib manusia di alam kehidupan sejati sudah paten, nasib kita kelak di alam keabadian mutlak ditentukan pada saat kita hidup di dunia ini. Maka sebaiknya kita lebih berhati-hati menjalani kehidupan ini. Berdoa untuk para leluhur bisa dilakukan dari rumah sembari tiduran leyeh-leyeh, atau sambil meditasi. Tetapi jika dilihat dari tingkat tantangan dan kesulitannya, maka mendoakan dari rumah belum termasuk kategori laku prihatin yang berkualitas tinggi. Sangat berbeda bila anda harus jauh-jauh pulang kampung lalu mendatangi makamnya, kemudian anda bersihkan, dan merawat makamnya. Tentu cara ini memiliki efek yang jauh lebih besar bagi kehidupan anda, daripada doa dari rumah hanya sekedar ucapan lisan tanpa ada action yang konkrit.



2. Tindakan Konkrit ; Tindakan konkrit berbeda dengan berdoa yang hanya berupa getaran jiwa yang diucapkan melalui lisan (apalagi doa yang hanya sekedar lips service). Tindakan konkrit ini adalah upaya kita berbakti kepada para leluhur dengan cara mewujudkannya dalam tindakan nyata. Jawa itu jawabe. Maksudnya, tidak hanya sekedar mulut atau omong doang, tetapi harus dengan jawabe, atau pembuktian secara nyata. Dilakukan berbagai tindakan konkrit, dengan tujuan dapat menyambung tali rasa sejati kita dengan rasa sejati para leluhur yang sudah di alam kelanggengan. Tindakan-tindakan konkrit yang bisa dilakukan antara lain ;



* Mengunjungi/menziarahi makam leluhur dimulai dari leluhur terdekat. Leluhur yang menurunkan sukma dan darah dalam jiwa dan raga kita. Kemudian leluhur bangsa yang menurunkan bumi pertiwi, para leluhur yang dulu sangat ketat menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, sehingga sekarang masih bisa kita nikmati. Saat ziarah kita melakukan perenungan/refleksi betapa besar jasa para leluhur yang sudah mewariskan harta dan pusaka warisan berupa ilmu, harta benda, tanah perdikan, bumi pertiwi yang hingga kini masih bisa kita semua nikmati. Kita contoh laku prihatin beliau sewaktu masih hidup di bumi, agar supaya anak turun kita kelak masih bisa menikmati tanah pusaka yang saat ini kita jaga kelestariannya.



* Taburkan bunga setaman, bunga-bungaan di pusara para leluhur sesuai adat dan tradisi masing-masing daerah. Bunga memiliki banyak arti dan makna, seperti sudah sering saya kemukakan di Media Tanya Jawab dan posting saya tentang Bancakan Weton. Selain itu, bunga-bunga tabur akan membuat indah dan wangi makam. Kita hargai dan luhurkan makam leluhur agar supaya berbeda dengan kuburan binatang, dan menghilangkan kesan kusam dan menyeramkan. Bagi anda yang takut dengan hantu-hantu makam, hal itu sebenarnya tak beralasan. Sebab hantu tidak akan bertempat tinggal di kuburan. Tetapi di lingkungan luar sekitar kuburan. Misalnya makam Jerukpurut Jakarta Selatan yang terkenal angker, siangpun tampak berkeliaran karena memang saerahnya, jadi bukan bermaksud menganggu atau menakuti orang. Tetapi makhluk halus tersebut tidak singgah di dalam kuburannya, melainkan tinggal di lingkungan luar makam. Kalau mau cari “aman” (tidak melihat) ya justru masuklah ke dalam makam.



* Sesaji. Sesaji di sini dimaksudkan sebagai simbol penyambutan (gayung bersambut), atau sikap penghormatan dan peluhuran terhadap para leluhur yang menurunkan kita, para leluhur perintis bangsa, dan leluhur manapun jika ada yang berkenan menengok (rawuh) ke rumah kita. Pada malam-malam tertentu, para leluhur “turun ke bumi” mengunjungi anak turunnya. Barangkali peristiwa ini sepadan dalam tradisi Hindu dengan apa yang dikatakan “para Dewa turun dari kahyangan”. Atau barangkali dalam tradisi Islam dikatakan para malaikat turun dari langit. Saya tidak mempersoalkan ragam terminologi tersebut. Saya hanya menekankan bahwa peristiwa tersebut bukan hanya sekedar mitologi tetapi sungguh ada dan nyata. Adapun malam-malam saat rawuhnya para leluhur berkunjung menengok anak turun dalam tradisi nusantara adalah setiap malam Selasa (Kliwon), Kamis malam atau malam Jumat (Legi dan Kliwon), dan pada malam-malam lainnya apabila ada sesuatu yang sifatnya darurat, misalnya memperingatkan anda melalui mimpi karena akan datang marabahaya, dan pada saat akan memberikan dawuh kepada anak turun yang dijangkungnya. Oleh sebab itu, idealnya kita siapkan sesaji setiap malam-malam khusus tersebut, atau minimal sebulan sekali ambil waktu malam Jumat Kliwon, atau malam Selasa Kliwon, atau malam Jumat Legi (malam agung khusus untuk para leluhur). Adapun sesaji yang disiapkan adalah ; teh tubruk, kopi tubruk disuguhkan dalam gelas/cangkir tanpa ditutup. Lalu siapkan kembang setaman (kantil, melati, kenanga, mawar merah dan mawar putih).



Sejujurnya, saya pribadi, belum sepenuhnya menjalankan semua langkah teknis dalam berbakti kepada leluhur di atas, karena memang situasinya belum memungkinkan. Saya lakukan apa yang saya bisa lakukan dengan sebaik-baiknya. Jika Anda punya keluangan dan kesempatan untuk melaksanakan itu semua, mengapa tidak?

5 Responses to "LAKU PRIHATIN"

  1. baru nemu blog yang penuh kawruh
    salam dari kalimantan tengah

    ReplyDelete
  2. baru nemu blog yang penuh kawruh
    salam dari kalimantan tengah

    ReplyDelete
  3. Inggih, matur nuwun. Lebih interaktif juga kalau njenengan masuk ke facebook, nama saya di situ Satria Pengging.

    ReplyDelete
  4. Salut sama artikelnya mulai sekarang saya akan mencobanya, Salam dari Sragen-JawaTengah

    ReplyDelete
  5. Makasih ms,sya akan mencoba nya

    ReplyDelete



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan