SPIRIT NUSANTARA JAYA



Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
[Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.]

Kala langit makin gelap, itu pertanda fajar akan segera merekah dan bagaskara muncul menerangi dunia. Kegelapan di Indonesia memang makin pekat. Pemimpin lupa daratan. Perekonomian dijajah orang. Anak-anak kehilangan panutan. Hutan hijau hancur dijarah. Namun, sang bijak menyadari bahwa situasi demikian justru merupakan pertanda hadirnya jaman baru. Jaman kalatidha segera berakhir, Nusantara yang muram kan segera berganti dengan Nusantara yang jaya.

Tentu saja, takdir tak bergerak sendiri. Ia mengikuti gerak langkah dan kiprah manusia. Maka, anak-anak Nusantara harus bergerak memadu langkah untuk membalik takdir suram menjadi takdir gemilang. Nujuman Sabdapalon dan Nayagenggong tentang kembalinya agama Budhi sebagai simbol kebangkitan Nusantara telah jelas terlihat. Para kawula muda menjadi motor kebangkitan ruhani...anak-anak Nusantara itu menjadi teladan bagi kesadaran akan kesatuan kebenaran di balik berbagai ekspresi keagamaan. Kini, sungguh anak-anak Nusantara telah banyak yang kembali kepada kebijaksanaan kuno sebagaimana yang dulu dituliskan Empu Tantular dalam Kitab Sutasoma. Berbeda-beda, namun satu jua adanya.

Telah bertebaran anak-anak Nusantara yang menghidupkan kembali kebijaksanaan kuno, berupa kebijaksanaan spiritual yang mementingkan isi ketimbang kulit. Yang menghargai perbedaan karena sadar bahwa di balik perbedaan itu ada kesamaan yang mendasar. Kita bisa saja beridentitas Islam, Syiwa-Budha, Katholik, atau apapun...namun kita sadari bersama kita adalah sesama anak Nusantara yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi. Lebih dari itu, kita menyadari bahwa kita adalah sesama pejalan ruhani yang sedang bekerja menemukan jatidiri sejati..menjangkau Dzat Yang Maha Misteri. Kita menyatu dalam getaran kewelasasihan yang memancar dari Sukma Sejati masing-masing. Kita bersaudara karena memang telah diikat oleh pertalian darah yang teramat kuat sebagai sesama anak Nusantara.

Anak-anak Nusantara yang telah dipanggil melalui getaran darah oleh para leluhurnya, kini bahu membahu membangkitkan kejayaan Nusantara. Semangat Majapahit, Pajajaran, Kutai, Sriwijaya, hidup kembali menjadi penerang untuk kehadiran jaman baru, jaman di mana Nusantara kembali menjadi salah satu kiblat dunia.

Maka, anak-anak Nusantarapun terus bergerak, di lapangan kebudayaan, di lapangan ekonomi, di lapangan politik. Para satria, brahmana dan waisya bekerja seiring sejalan sesuai peran masing-masing untuk memperkuat gerak maju barisan anak-anak Nusantara. Apalagi bende mataram telah ditabuh. Maju ke gelanggang tanpa keraguan. Berjuang dan meraih kemenangan. Dengan cara bermartabat untuk membuat Ibu Pertiwi kembali tersenyum.

Mari, wahai anak-anak Nusantara, kembalilah ke pangkuan Ibu Pertiwi. Ikuti panggilan darahmu. Temukan jatidirimu. Kenali akarmu. Lalu bangkitlah, majulah! Jadilah engkau kebanggaan Ibu Pertiwi. Nusantara jaya menyongsong kita! Negeri gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja sudah menunggu!
0 Response to "SPIRIT NUSANTARA JAYA"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan