Titik Persinggahan: Saat Kedamaian Mulai Terkuak



Semuanya berawal dari April 2008, sekitar 2 tahun yang lalu, kegelisahanku mencapai puncaknya. Serangkaian pertanyaan muncul, tanpa jawaban yang memadai. Sebagian pertanyaan itu menelusup jauh mempertanyakan jatidiri: Siapakah aku? Mengapa aku menjadi seperti sekarang? Apakah aku punya akar keberadaan? Apakah aku juga punya akar budaya? Dan penting pulakah kesadaran akan hal-hal demikian?

Semuanya berawal dari ketidakpuasan akan cara beragama yang selama ini kujalani. Kunyatakan diriku sebagai seorang Muslim, tapi kurasakan kekeringan dan perasaan seperti mengalami kemandegan. Bahkan hidupku nyaris porak poranda. Kulihat sekelilingku...kutahu bahwa negeri ini adalah negeri di mana kaum Muslimin menjadi mayoritas. Tapi ternyata negeri ini jauh dari selamat...negeri ini terasa gersang..bahkan penuh prahara. Mengapa bisa demikian?

Sebuah bisikan dari kedalaman hati, seperti memanggilku untuk menggerakkan kaki...maka terdamparlah diriku di tanah leluhur...dimulailah napak tilas babak pertama: Magelang - Muntilan - Selo - Temanggung - Jogja. Kudekatkan diriku dengan masa lalu...kusambungkan jiwa ini dengan spirit para pendahulu. Maka, dimulailah proses pembukaan kesadaran: yang paling dasar, adalah kesadaran bahwa aku harus ingat dari mana aku berasal, siapa yang menurunkanku, dan apa nilai-nilai luhur yang mereka anut.

Kesadaran demikian, selanjutnya menuntunku untuk menguak keindahan dan kebenaran yang selama ini terselubungi oleh berbagai stigma, dan terlupakan oleh diri yang lalai. Pendekatanku pada para leluhur dengan cara mistis, selanjutnya dilengkapi dengan pendekatan intelektual..maka berjumpalah diri ini dengan pitutur dan ajaran para leluhur yang sedikit demi sedikit mengantarkan diri ini pada keadaan bathin yang lebih mantap.

Melengkapi persinggunganku dengan tasawuf, ajaran spiritualitas India, ajaran new age, dan lainnya....ajaran Kejawen dan Islam Jawa ala Syeikh Siti Jenar, membasuhku dengan segenap kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.

Maka, kini aku sadar siapa diriku, siapa yang menurunkanku, dan apa akar kebudayaanku. Babak baru dalam perjalanan panjang menuju keabadian pun dimulai. Yang pasti..kedamaian itu demikian terasa. Bagaimana dengan Anda?
0 Response to "Titik Persinggahan: Saat Kedamaian Mulai Terkuak"

Post a Comment



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan