AGAMA LANGIT VS AGAMA BUMI



Sejak kecil, aku diajari bahwa agama yang benar adalah yang berasal dari Allah, berdasarkan wahyu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Agama seperti demikian disebut juga dengan Dien al-samawat (agama langit), yang dianggap berbeda 180 derajat dengan ajaran-ajaran yang diciptakan oleh manusia. Agama-agama yang diciptakan oleh manusia disebut juga dengan dien al-ardh (agama bumi): dalam pemilahan yang paling ketat, yang masuk kategori dien al-samawat hanyalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad..sementara lainnya, Hindu, Budha, Kejawen, adalah dien al-ardh. Yahudi dan Kristen, pada awalnya memang benar merupakan dien al-samawat, tapi telah tercemar dan kadaluwarsa. Yang terakhir ini terakhir ini tentu saja, dinilai sebagai ajaran yang keliru bahkan sesat. Hanya yang memeluk agama langitlah (yaitu Islam) yang diridhoi Tuhan dan dijamin masuk surga.

Kini, kusadari bahwa itu adalah salah satu mitos kaum beragama...sesuatu yang tak lebih dari persangkaan kosong, dongeng, namun diyakini sebagai kebenaran!

Berdasarkan ilham yang menyelusup masuk ke dalam hatiku, juga pencerahan dari ajaran sufi dan Kejawen, aku menjadi sadar bahwa sesungguhnya setiap manusia pada dasarnya memang seonggok daging, tapi di baliknya bersemayam Cahaya Yang Maha Suci. Pada setiap manusia, terdapat Ruh Al-Quds...yang dalam filsafat Jawa disebut juga dengan Sukma Sejati atau Guru Sejati. Seseorang yang menjalankan proses tazkiyatun nafs ataupun laku prihatin/tapa...pada akhirnya akan bertemu dengan Sukma Sejati dan Guru Sejati-nya, dan pada akhirnya akan Manunggal Kalawan Gusti. Ya, mereka yang berhasrat kuat untuk bergerak maju dan membuka diri terhadap hadirnya Kebenaran di dalam hati yang paling dalam, pada akhirnya akan sedikit demi sedikit menemukan Cahaya Kebenaran....mirip dengan apa yang diterima oleh para Nabi dalam tradisi Islam, Kristen dan Yahudi.

Sepanjang peradaban, tak terhitung jumlahnya mereka yang mengalami proses pencerahan demikian sehingga kemudian bisa menuturkan Kebenaran. Kebenaran demikian, bisa dirasakan ibarat air bening yang mengalir dari Mata Air Kebenaran, dari Dia Yang Maha Suci. Sekalipun yang menuturkan berbeda-beda orang dan tradisi, rasanya tetap sama: menyegarkan, menyejukkan, memberi kedamaian.

Dengan cara pandang demikian, setiap kebenaran, apakah ia bernama Islam yang disampaikan Nabi Muhammad, ataupun ajaran kebijaksanaan Cina, Kejawen, dan lainnya, pada dasarnya adalah "agama langit" dalam pengertian sumber sejatinya adalah Zat Yang Maha Suci, dan pada saat yang sama adalah "agama bumi" karena memancar dari nurani sang manusia.

Andapun bisa memancarkan kebenaran seperti demikian!

5 Responses to "AGAMA LANGIT VS AGAMA BUMI"

  1. dasar goblok...kalau beropini yang masuk akal donk...

    ReplyDelete
  2. dasar goblok...kalau beropini yang masuk akal donk...

    ReplyDelete
  3. Manunggaling kaula lan Gusti,Menyatunya Atma dengan Jiwatman=mokso/moksa, merupakan tujuan akhir Umat beragama Hindu,Bukan Sorga.
    Sorga merupakan alam Dewata dan Bidadari. Hidup disorga masih terikat oleh nafsu, oleh karenanya masih memungkinkan ber Reinkarnasi.
    Tujuan Agama Langitadalah mencapai sorga, ingin dikelilingi oleh para Bidadari. Sedang tujuan akhir beragama Bumi adalah kembali keasal yaitu menyatu dengan Gusti Hyang Widhi.
    Ki Ageng Pengging mulanya adalah tokoh yang tidak mau tunduk pada Kerajaan Demak. Seiring perjalanan waktu, keturunan dan pengikut Ki Ageng Pengging melupakan Agama leluhurnya, KTP Islam,tetapi keyakinan batinnya dan cara ritualnya masih Hindu.

    ReplyDelete
  4. Rahayu Pak Guli Mudiarcana, om swastiastu. Apa yang panjenengan sampaikan benar. Semoga berkenan komunikasi via email saya setyohd@mail.com

    ReplyDelete
  5. om santi kemana om.. santi keman om...

    ReplyDelete



Laku spiritual adalah proses bertumbuhnya pengalaman keilahian, wujudnya adalah menjadi penuh dengan daya, penuh kebijaksanaan, penuh kecerdasan, penuh kreatifitas, penuh welas asih.


Setyo Hajar Dewantoro
Founder of Mahadaya Institute


Buku

Buku Medseba Buku Sastrajendra Buku Suwung Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi Buku Sangkan Paraning Dumadi

Kegiatan